Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kopi Jahe Bang Ali Banyuwangi Bertahan Sejak 1980, Racikan Rempah Rahasia dan Jahe Telur Jadi Buruan Pelanggan

Fredy Rizki Manunggal • Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:44 WIB
GENERASI KEDUA: Ismail meracik kopi jahe telur bebek yang menjadi menu favorit warung Bang Ali yang lokasinya di sebelah utara Apotek Kimia Farma Jalan Basuki Rahmad, Kelurahan Singotrunan, Jumat (22/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
GENERASI KEDUA: Ismail meracik kopi jahe telur bebek yang menjadi menu favorit warung Bang Ali yang lokasinya di sebelah utara Apotek Kimia Farma Jalan Basuki Rahmad, Kelurahan Singotrunan, Jumat (22/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah menjamurnya warung kopi jahe di berbagai sudut Banyuwangi, ada satu nama yang tetap bertahan lintas generasi dan punya pelanggan setia sendiri. Bukan sekadar menawarkan sensasi hangat di tenggorokan, racikan kopi jahe di Warung Bang Ali dipercaya menyimpan khasiat istimewa yang membuat pelanggan datang berulang kali.

Aroma rempah yang khas bahkan sudah tercium sebelum pengunjung benar-benar tiba di warung sederhana di pinggir Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi. Tepat di sebelah selatan SMP Al Irsyad Al Islamiyyah, dekat Pasar Blambangan, warung kecil itu nyaris tak pernah benar-benar sepi.

Pagi itu, sejumlah pelanggan tampak menunggu di depan meja kayu sederhana. Di balik kepulan uap panas, tangan cekatan seorang perempuan tengah meracik gelas demi gelas kopi jahe.

Perempuan itu bernama Miskanah, 52.

Warga sekitar lebih akrab memanggilnya dengan sebutan "kakak".

Miskanah merupakan generasi kedua yang menjaga napas usaha Warung Bang Ali, salah satu warung kopi jahe legendaris di Banyuwangi.

"Warung ini sudah ada sejak zaman saya kecil. Mungkin sekitar tahun 1980. Yang dulu berjualan Pak Ali Badri, masih saudara dengan saya," ujar Miskanah.

Kini warung tersebut dikelola bergantian oleh tiga anggota keluarga: dirinya, Ismail yang merupakan anak Pak Ali Badri, dan Abdul Raqib.

Berawal dari Sego Bodrek Murah Meriah

Jauh sebelum dikenal lewat kopi jahenya, Warung Bang Ali awalnya terkenal sebagai tempat berburu nasi bungkus murah yang akrab disebut masyarakat sebagai sego bodrek.

Menu sederhana itu menjadi andalan warga sekitar, terutama kalangan pekerja dan pedagang pasar.

Namun seiring waktu, kopi jahe perlahan berubah menjadi identitas utama warung tersebut.

Miskanah mulai ikut berjualan sejak 2003.

Sejak saat itu, racikan kopi jahe terus dipertahankan dengan cara tradisional.

Seluruh bahan disiapkan sendiri, mulai pemilihan kopi hingga racikan rempah.

"Saya siapkan sendiri bahannya, mulai kopi bubuk sampai rempah-rempahnya. Semua pakai bahan alami," katanya.

Disangrai Sendiri, Diracik dengan Formula Rahasia

Tidak banyak warung yang masih mempertahankan proses pengolahan manual seperti dilakukan Warung Bang Ali.

Miskanah memilih sendiri biji kopi mentah di pasar.

Setelah itu kopi disangrai secara tradisional sebelum akhirnya digiling sendiri.

Begitu juga dengan campuran rempah jahenya.

Dalam satu racikan terdapat kombinasi beberapa bahan pilihan seperti jahe, kapulaga, jinten hitam, cengkih, hingga pala.

Semua bahan dipilih sendiri dengan takaran yang dijaga ketat.

"Semuanya saya pilih sendiri dengan bahan terbaik. Takarannya juga saya sesuaikan, jadi sudah punya cita rasa sendiri," katanya sembari menunjukkan bubuk kopi racikannya.

Perpaduan rempah itulah yang menciptakan aroma khas sekaligus rasa berbeda dibanding kopi jahe kebanyakan.

Jahe Telur Bebek Jadi Menu Paling Diburu

Meski kopi jahe menjadi identitas utama, pelanggan justru banyak memburu menu lain yang dianggap lebih "bertenaga".

Namanya jahe telur bebek.

Menu ini disajikan panas dengan campuran rempah dan telur bebek yang diaduk dalam gelas.

Efeknya terasa cepat.

Tubuh menjadi hangat bahkan berkeringat sesaat setelah diminum.

Sebagian pelanggan percaya minuman tersebut membantu menjaga kebugaran dan vitalitas tubuh.

Selain jahe telur, tersedia pula beberapa menu hangat lain seperti:

Namun menurut Ismail, menu jahe telur masih menjadi primadona.

"Yang paling banyak diminta pelanggan jahe telur. Kami pakai telur bebek istimewa," ujarnya.

Menariknya, pelanggan bebas menentukan jumlah telur sesuai selera.

"Mau pakai satu atau tiga telur boleh," katanya.

Satu gelas jahe telur dibanderol Rp 9 ribu.

Nyaris Buka 24 Jam

Satu hal lain yang membuat Warung Bang Ali bertahan puluhan tahun adalah jam operasionalnya yang nyaris tanpa jeda.

Warung tersebut dibuka bergantian dalam tiga shift berbeda.

Shift pertama dimulai pukul 01.00 hingga 09.00.

Kemudian dilanjutkan pukul 10.00 sampai 15.00.

Sedangkan shift terakhir berlangsung pukul 15.00 hingga 23.00.

Pembagian jadwal itu dilakukan agar warung tetap hidup hampir sepanjang hari.

"Kalau pagi yang buka adik saya Ismail, kemudian pagi sampai sore saya, terakhir kakak saya Abdul Raqib," jelas Miskanah.

Di tengah banyaknya kedai kopi modern yang bermunculan, Warung Bang Ali tetap bertahan dengan cara lama: menjaga rasa, mempertahankan resep keluarga, dan merawat hubungan dengan pelanggan.

Empat dekade lebih berlalu, aroma rempah dari sudut kecil dekat Pasar Blambangan itu rupanya masih terus memanggil orang-orang untuk kembali datang. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#kuliner legendaris Banyuwangi #Kopi Jahe Bang Ali #warung kopi Banyuwangi #jahe telur Banyuwangi #pasar blambangan