RADARBANYUWANGI.ID - Kurang lengkap rasanya berkunjung ke Banyuwangi tanpa mencicipi rujak soto, kuliner khas masyarakat Osing yang melegenda. Di antara banyak penjual rujak soto di Kota Gandrung, nama Bek Siyam di Desa Kemiren menjadi salah satu yang paling diburu pencinta kuliner, meski lokasinya tersembunyi jauh dari hiruk-pikuk jalan utama.
Warung sederhana milik Siyam, 64, di Dusun Kedaleman, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, nyaris tak pernah sepi pembeli. Tanpa papan nama besar, tanpa promosi digital, bahkan hanya memanfaatkan teras rumah sebagai tempat makan, rujak soto Bek Siyam justru menjelma menjadi hidden gem kuliner Banyuwangi yang terkenal hingga luar kota.
Setiap hari, pembeli datang silih berganti. Tak hanya warga lokal, pelanggan dari Surabaya, Jakarta, hingga wisatawan mancanegara rela masuk gang kampung demi menikmati semangkuk rujak soto khas racikan tangan Siyam.
Lokasinya berada di sebelah timur Masjid Nurul Huda, Desa Kemiren. Dari pusat Kota Banyuwangi, jaraknya sekitar tujuh kilometer ke arah barat.
Berawal dari Warisan Sang Ibu
Siyam menuturkan dirinya mulai berjualan rujak soto sekitar tahun 2008. Namun, usaha rujak sebenarnya sudah diwariskan turun-temurun dari sang ibu sejak puluhan tahun silam.
Kala itu, ibunya berjualan rujak keliling saat ada pertunjukan gandrung maupun hajatan warga.
“Dulu ibu saya jualan rujak keliling kalau ada tontonan gandrung atau orang punya hajatan seperti nikahan,” ujar Siyam.
Setelah ibunya mulai lanjut usia, usaha tersebut diteruskan olehnya. Awalnya, Siyam sempat berjualan di pinggir jalan sebelum akhirnya memilih membuka lapak sederhana di rumah sendiri.
Tak disangka, keputusan tersebut justru membuat dagangannya semakin dikenal luas.
“Awalnya saya pikir nggak tahu bakal laku apa tidak. Yang penting tetap jualan. Ternyata malah ramai, pembelinya dari mana-mana,” katanya.
Awalnya Hanya Jual Rujak Buah
Sebelum terkenal dengan rujak soto, Siyam hanya menjual rujak buah biasa warisan keluarga. Ide mencampurkan rujak dengan kuah soto muncul dari usulan anak semata wayangnya.
Saat pertama kali mencoba berjualan rujak soto, ia hanya menyiapkan setengah kilogram daging ayam untuk pelanggan sekitar rumah.
Namun perlahan, pelanggan terus bertambah hingga kini kebutuhan bahan baku bisa mencapai 10 hingga 15 kilogram per hari.
“Awal jualan rujak soto stok daging cuma setengah kilogram karena yang beli tetangga saja. Lama-lama pembeli datang dari mana-mana sampai harus stok 15 kilogram sehari,” ujarnya.
Ciri Khas Pakai Ceker dan Kepala Ayam
Yang membuat rujak soto Bek Siyam berbeda dari kebanyakan penjual lain adalah isiannya. Jika umumnya rujak soto Banyuwangi memakai daging sapi atau babat, Siyam justru memilih menggunakan sayap ayam, ceker, dan kepala ayam.
Pilihan sederhana itu ternyata menjadi ciri khas yang disukai pelanggan.
Kuah soto gurih berpadu bumbu rujak pedas-manis dengan aroma petis menciptakan rasa medok khas Banyuwangi yang sulit ditemukan di tempat lain.
Menariknya, Siyam mengaku pernah mencoba menggunakan babat sebagai isian. Namun pelanggan justru lebih menyukai racikan lama menggunakan bagian ayam.
“Pernah coba pakai babat, malah kurang diminati. Kalau pakai sayap, ceker, sama kepala ayam justru cepat habis,” tuturnya.
Rahasia Rasa Ada pada Gula Aren
Meski terkenal hingga luar daerah, Siyam mengaku racikan bumbu rujak sotonya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penjual lain. Namun ada satu bahan yang selalu dipertahankan, yakni penggunaan gula aren.
Menurutnya, gula aren membuat rasa kuah menjadi lebih gurih dan tidak sekadar asin.
“Masakannya sama saja seperti orang-orang, cuma gulanya pakai gula aren supaya lebih sedap,” katanya.
Kesederhanaan itulah yang justru membuat pelanggan terus kembali.
Tanpa Banner, Tetap Diburu Wisatawan
Di tengah maraknya promosi media sosial dan pemasaran digital, Bek Siyam tetap bertahan dengan cara tradisional. Warungnya bahkan tidak memasang banner ataupun papan nama besar.
“Nggak pakai banner karena malu, saya toh cuma jualan rujak soto saja,” ujar perempuan beranak satu tersebut sambil tertawa.
Meski demikian, popularitasnya justru menyebar dari mulut ke mulut. Banyak wisatawan yang mengetahui lokasi Bek Siyam dari rekomendasi teman, sopir travel, hingga konten kuliner di media sosial.
Murah dan Selalu Ludes
Harga seporsi rujak soto Bek Siyam juga tergolong ramah di kantong. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp10 ribu hingga Rp12 ribu untuk menikmati seporsi kuliner legendaris tersebut.
Dalam menjalankan usahanya, Siyam dibantu tiga pegawai yang masih kerabat sendiri.
Warung rujak soto Bek Siyam buka setiap hari mulai pukul 07.00 pagi dan hanya tutup setiap Jumat. Namun pembeli harus datang lebih awal karena dagangan biasanya habis sebelum waktu dhuhur.
Bahkan saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu, seluruh dagangan kerap ludes sekitar pukul 09.00 pagi.
“Kalau Sabtu Minggu biasanya jam sembilan pagi sudah habis dan mulai bersih-bersih,” ungkapnya.
Jadi Ikon Kuliner Desa Wisata Kemiren
Desa Kemiren sendiri dikenal sebagai pusat budaya masyarakat Osing di Banyuwangi. Selain tradisi adat dan rumah khas Osing, kawasan ini juga terkenal dengan kekayaan kuliner tradisionalnya.
Keberadaan rujak soto Bek Siyam menjadi salah satu daya tarik wisata kuliner yang memperkuat identitas Desa Kemiren sebagai desa wisata budaya.
Di tangan Siyam, semangkuk rujak soto bukan sekadar makanan. Ia menjadi cerita tentang tradisi keluarga, ketekunan menjaga resep warisan leluhur, hingga bukti bahwa kuliner sederhana tetap mampu bertahan di tengah gempuran makanan modern. (*)
Editor : Ali Sodiqin