RADARBANYUWANGI.ID - Tradisi kuliner khas Osing kembali menunjukkan daya magisnya. Warung rujak soto milik Siyam atau yang lebih dikenal sebagai Bek Siyam di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tak pernah sepi pembeli. Dalam hitungan jam, puluhan porsi rujak soto legendaris itu langsung ludes diserbu pencinta kuliner dari berbagai daerah.
Bukan hanya warga lokal Banyuwangi yang rela datang pagi-pagi demi seporsi rujak soto bercita rasa autentik tersebut. Pelanggan Bek Siyam kini datang dari Surabaya, Jakarta, hingga wisatawan mancanegara yang tengah berlibur ke Banyuwangi.
Fenomena itu membuat warung sederhana di kawasan wisata adat Osing tersebut menjelma menjadi salah satu destinasi wisata kuliner paling diburu di Banyuwangi.
“Awalnya yang beli cuma warga sekitar sini saja. Lama-lama pembeli datang dari mana-mana, sampai orang Surabaya dan Jakarta juga makan di sini,” ujar Siyam sambil tersenyum.
Jadi Jujugan Wisatawan Usai dari Kawah Ijen
Popularitas rujak soto Bek Siyam semakin melejit seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke Banyuwangi. Banyak turis asing yang sengaja mampir ke rumah makan sederhana itu setelah menikmati wisata alam Kawah Ijen.
Menurut Siyam, wisatawan mancanegara biasanya penasaran dengan perpaduan unik antara rujak petis dan kuah soto khas Banyuwangi yang disajikan dalam satu mangkuk.
“Biasanya turis habis dari Ijen terus makan rujak soto di sini,” katanya.
Cita rasa khas dengan kuah gurih berpadu bumbu rujak pedas manis menjadi pengalaman kuliner yang sulit ditemukan di daerah lain. Tidak heran jika warung ini sering masuk daftar rekomendasi wisatawan yang berburu kuliner autentik Banyuwangi.
Artis hingga Bupati Pernah Mampir
Tak hanya wisatawan biasa, sejumlah tokoh publik hingga artis disebut pernah mencicipi sajian khas Bek Siyam. Meski demikian, Siyam mengaku tidak terlalu mengenali para selebritas yang datang ke warungnya.
“Ada beberapa artis makan di sini, tapi saya nggak tahu namanya. Saya tahunya dari tetangga katanya itu artis,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Salah satu momen yang paling diingat Siyam adalah ketika Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, datang bersama rombongan sebelum menghadiri agenda Festival Ngopi Sepuluh Ewu.
Menurut Siyam, saat itu rumahnya mendadak penuh oleh rombongan tamu yang ingin menikmati rujak soto khas Kemiren.
“Waktu itu Bu Ipuk pernah makan di sini bersama rombongan sebelum Festival Ngopi Sepuluh Ewu,” tuturnya.
Suasana Rumahan Jadi Daya Tarik
Di tengah menjamurnya kafe modern dan restoran kekinian, Bek Siyam justru mempertahankan konsep sederhana khas rumah warga Osing. Pengunjung bisa makan lesehan di teras rumah, duduk santai di ruang tamu, atau menikmati suasana kampung adat Kemiren yang masih asri.
Nuansa sederhana itulah yang justru menjadi magnet tersendiri bagi pelanggan.
“Kalau makan di sini pembeli bisa lesehan di teras atau duduk di ruang tamu,” kata Siyam.
Aroma dapur tradisional, suasana hangat rumah warga, serta keramahan khas masyarakat Osing membuat pengalaman makan terasa lebih intim dan autentik.
Pelanggan Rela Datang Berkali-kali
Salah satu pelanggan asal Surabaya, Bayu, mengaku selalu menyempatkan diri mampir ke Bek Siyam setiap kali berkunjung ke Banyuwangi. Menurutnya, rasa rujak soto di tempat tersebut sulit ditemukan di tempat lain.
“Kalau ke Banyuwangi saya selalu makan di sini karena rasanya enak dan medok. Suasananya juga nyaman seperti rumah nenek,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Nuriyah, warga Kelurahan Pakis. Ia menyebut rasa khas dan harga yang terjangkau menjadi alasan utama pelanggan terus berdatangan.
“Selain murah, rasa rujak soto Bek Siyam memang nggak perlu diragukan lagi,” katanya.
Rujak Soto Jadi Ikon Kuliner Banyuwangi
Rujak soto sendiri merupakan salah satu kuliner khas Banyuwangi yang dikenal unik karena memadukan dua sajian berbeda dalam satu mangkuk. Perpaduan rujak petis dengan kuah soto babat atau daging menciptakan rasa gurih, pedas, segar, sekaligus kaya rempah.
Kuliner ini telah menjadi identitas gastronomi masyarakat Osing dan kini berkembang menjadi daya tarik wisata unggulan Banyuwangi.
Keberadaan warung-warung legendaris seperti Bek Siyam menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap mampu bertahan di tengah gempuran makanan modern. Bahkan, justru semakin dicari wisatawan yang ingin merasakan pengalaman kuliner otentik khas daerah.
Di tangan Siyam, semangkuk rujak soto bukan sekadar makanan, melainkan cerita panjang tentang tradisi, keramahan kampung Osing, dan cita rasa lokal yang terus hidup lintas generasi. (*)
Editor : Ali Sodiqin