RADARBANYUWANGI.ID – Pantai Blimbingsari di Banyuwangi tak hanya dikenal karena panorama pesisirnya yang eksotis. Kawasan wisata di ujung selatan Banyuwangi itu juga menjadi surga kuliner laut khas pesisir yang terus diburu wisatawan.
Salah satu yang paling legendaris adalah ikan asap khas Blimbingsari dengan bumbu tradisional yang bertahan lintas generasi sejak puluhan tahun silam.
Di antara deretan penjual ikan bakar dan ikan asap di Dusun Krajan, Desa Blimbingsari, nama Mastia, 66, menjadi salah satu yang paling dikenal pelanggan.
Perempuan itu telah berjualan sejak 1977 dan masih mempertahankan resep asli warisan keluarga hingga sekarang.
Aroma ikan asap yang dibakar menggunakan bumbu rempah tradisional menjadi daya tarik utama wisata kuliner Pantai Blimbingsari.
Wisatawan yang datang ke kawasan pantai hampir selalu menyempatkan diri mampir membeli ikan bakar khas tersebut untuk disantap langsung maupun dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
“Bumbu ini resep turun-temurun asli Blimbingsari. Bahannya asem, bawang merah, bawang putih, laos, kemiri, kencur, gula merah, gula putih, cabai besar dan kecil,” ujar Mastia saat ditemui di lapaknya, Kamis (7/5), sebagaimana dilansir dari laman banyuwangikab.go.id.
Menurut dia, cita rasa khas ikan asap Blimbingsari terletak pada teknik pengolahan dan racikan bumbu tradisional yang tetap dipertahankan sejak dulu.
Ikan segar hasil tangkapan nelayan lebih dulu dibakar setengah matang, kemudian dilumuri bumbu rempah sebelum kembali dibakar agar rasa benar-benar meresap hingga ke daging ikan.
Jenis ikan yang dijual pun beragam, mulai ekor merah, banyar, slengseng, hingga kerapu. Seluruh ikan didapat langsung dari nelayan sekitar Pantai Blimbingsari sehingga kualitas dan kesegarannya tetap terjaga.
Keunikan rasa itulah yang membuat pelanggan Mastia terus berdatangan dari berbagai daerah.
Bahkan, banyak wisatawan yang awalnya hanya singgah saat berkunjung ke Pantai Blimbingsari, akhirnya menjadi pelanggan tetap setelah mencicipi kelezatan ikan asap tersebut.
“Kalau kirim luar kota bisa 50 sampai 150 tusuk sekali pesan. Ada yang lewat kereta, ada yang dititipkan bus. Alhamdulillah aman sampai tiga hari,” katanya.
Pesanan rutin disebut datang dari sejumlah kota besar seperti Blitar, Yogyakarta, hingga Sumatera.
Pemesanan biasanya dilakukan melalui telepon maupun WhatsApp sebelum dikirim menggunakan kereta api atau bus antarkota.
Meski sudah dikenal luas hingga luar daerah, harga ikan asap Blimbingsari masih tergolong ramah kantong.
Satu porsi ikan bakar dijual mulai Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung ukuran ikan. Sedangkan pepes ikan dibanderol sekitar Rp 5 ribu per bungkus.
Pedagang lainnya, Ulin, 45, mengatakan sentra ikan bakar di kawasan Blimbingsari kini terus berkembang seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke pantai tersebut.
Saat ini terdapat sekitar 15 UMKM kuliner ikan bakar yang bertahan di kawasan Dusun Krajan.
Menurut dia, sektor pariwisata memberikan dampak besar terhadap geliat ekonomi warga pesisir. Banyak wisatawan sengaja datang untuk berburu kuliner ikan bakar setelah menikmati suasana pantai.
“Wisatawan banyak yang pulang dari pantai mampir beli ikan bakar. Kalau sudah pernah ke sini biasanya balik lagi karena bumbunya khas,” ujarnya.
Ulin menyebut salah satu kekuatan utama kuliner Blimbingsari adalah penggunaan bumbu alami tanpa tambahan saus instan.
Cita rasa tradisional tersebut justru menjadi pembeda dibanding kuliner seafood di daerah lain.
“Alhamdulillah sektor pariwisata ikut membantu UMKM. Kalau akhir pekan omzet bisa naik sampai Rp 500 ribu bahkan lebih. Terakhir ada pesanan dari Surabaya sampai 80 tusuk,” katanya.
Popularitas kuliner ikan asap Blimbingsari juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Dalam agenda program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Desa Blimbingsari, Kamis (7/5/2026), Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani turut mencicipi langsung ikan bakar khas warga setempat.
Ipuk menilai kuliner tradisional seperti ikan asap Blimbingsari merupakan kekuatan penting sektor pariwisata Banyuwangi.
Menurut dia, wisatawan saat ini tidak hanya mencari destinasi alam, tetapi juga pengalaman kuliner autentik yang khas dan sulit ditemukan di daerah lain.
“Kuliner khas seperti ini menjadi kekuatan wisata Banyuwangi. Orang datang tidak hanya menikmati pantai, tetapi juga mencari pengalaman kuliner autentik yang tidak ditemukan di daerah lain,” ujarnya.
Ipuk menambahkan, wisata kuliner pesisir harus terus dipromosikan karena terbukti mampu menggerakkan ekonomi masyarakat lokal. Terlebih sentra ikan bakar Blimbingsari kini mulai dikenal luas hingga luar daerah.
“Ini salah satu daya tarik wisata Banyuwangi. Rasanya khas karena bumbunya tradisional dan ikannya segar langsung dari nelayan. Kita ingin wisatawan yang datang ke Banyuwangi membawa pengalaman kuliner yang berkesan,” tegasnya.
Dengan resep turun-temurun, cita rasa khas, dan dukungan sektor wisata yang terus tumbuh, ikan asap Blimbingsari kini bukan sekadar kuliner biasa.
Hidangan tradisional itu telah menjelma menjadi identitas wisata pesisir Banyuwangi yang terus bertahan di tengah gempuran kuliner modern. (*)
Editor : Ali Sodiqin