Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bakso Rawon Kalipuro Banyuwangi Beri Harga Khusus Pelajar Rp 5 Ribu

Fredy Rizki Manunggal • Sabtu, 9 Mei 2026 | 03:00 WIB
HARGA TERJANGKAU: Menu rawon bakso berisi nasi, daging sapi, pentol bakso, tempe kering, sambal, kecambah, dan kuah rawon yang menggoda selera. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
HARGA TERJANGKAU: Menu rawon bakso berisi nasi, daging sapi, pentol bakso, tempe kering, sambal, kecambah, dan kuah rawon yang menggoda selera. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah menjamurnya kuliner modern dan restoran cepat saji, satu warung sederhana di Lingkungan Brak, Kelurahan Kalipuro, Banyuwangi tetap bertahan menjaga cita rasa lawas yang sudah dikenal lintas generasi.

Adalah Warung Bakso Rawon Sumber Rejeki milik Siyamah yang hingga kini masih menjadi jujugan warga dan wisatawan pencinta kuliner tradisional Banyuwangi.

Tak hanya mempertahankan resep khas rawon bakso selama hampir 30 tahun, warung tersebut juga tetap dikenal karena harga makanannya yang ramah kantong.

Bahkan khusus pelajar, pemilik warung sengaja memberikan harga spesial agar anak-anak tetap bisa sarapan sebelum berangkat sekolah.

Satu porsi rawon untuk pelajar dibanderol hanya Rp 5 ribu.

“Kami kasih harga khusus untuk anak sekolah supaya tetap bisa sarapan,” ujar Siyamah, pemilik warung.

Kebijakan itu sudah diterapkan cukup lama sebagai bentuk kepedulian terhadap pelajar di sekitar Kecamatan Kalipuro.

Warung tersebut memang berada di jalur strategis dekat sekolah dan kawasan permukiman warga.

Sebelum pagi hari dimulai, warung biasanya ramai dipenuhi anak sekolah dan pekerja yang sarapan sebelum beraktivitas.

Namun kondisi itu berubah sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan.

Dampak Program MBG, Pembeli Pelajar Menurun

Menurut Siyamah, jumlah pelajar yang biasa sarapan maupun makan siang di warungnya kini jauh berkurang.

Bahkan hampir tidak ada lagi siswa yang makan siang di warung setelah program MBG diterapkan.

“Dulu masih banyak anak sekolah yang sarapan di sini. Sekarang sejak ada MBG sudah hampir tidak ada,” ungkapnya.

Meski jumlah pembeli dari kalangan pelajar menurun, Siyamah tetap mempertahankan harga murah bagi pelanggan.

Ia mengaku tidak ingin menaikkan harga terlalu tinggi meski biaya bahan baku terus meningkat dari tahun ke tahun.

Perempuan 62 tahun itu mengingat betul bagaimana harga daging sapi saat awal membuka usaha pada 1994 masih sekitar Rp 12 ribu per kilogram.

Kini harga daging sapi sudah menembus Rp 140 ribu per kilogram.

“Semua harga naik, tapi kami tetap menyesuaikan supaya pelanggan tetap bisa makan di sini,” katanya.

Cita Rasa Lawas yang Tetap Dicari

Warung bakso rawon tersebut memang sudah lama dikenal masyarakat sekitar Kalipuro.

Perpaduan kuah rawon hitam pekat dengan bakso sapi menjadi daya tarik utama yang sulit ditemukan di tempat lain.

Pelanggan bisa memilih dua menu andalan, yakni rawon biasa atau rawon campur bakso.

Kuah rempah kluwek yang gurih dan potongan daging empuk menjadi ciri khas yang membuat pelanggan datang kembali.

Salah satu pelanggan setia, Sodiqin, warga Kelir, mengaku hampir selalu menyempatkan mampir saat melintas di depan warung tersebut.

“Kuahnya hitam pekat, dagingnya empuk, dan pentolnya enak sekali. Saya paling suka rawon baksonya,” ujarnya.

Di tengah persaingan usaha kuliner modern, keberadaan warung sederhana seperti ini menjadi bukti bahwa rasa autentik dan kedekatan dengan pelanggan tetap menjadi kekuatan utama.

Kuliner tradisional Banyuwangi tidak hanya bertahan karena keunikan rasa, tetapi juga karena nilai sederhana dan kedekatan sosial yang terus dijaga pemilik usaha. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#bakso rawon Kalipuro #Warung Sumber Rejeki Banyuwangi #kuliner murah Banyuwangi #rawon bakso legendaris #harga rawon pelajar