Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Warung Kaliseng Banyuwangi, Surga Ketan Kirip dan Kopi Pagi yang Selalu Ludes Sejak Subuh

Syaifuddin Mahmud • Sabtu, 25 April 2026 | 04:00 WIB
SELALU RAMAI: Warung Yudi Kaliseng selatan Perliman Banyuwangi yang menyediakan menu ketan kirip dan jajanan gorengan buka setiap pagi pukul 04.30. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
SELALU RAMAI: Warung Yudi Kaliseng selatan Perliman Banyuwangi yang menyediakan menu ketan kirip dan jajanan gorengan buka setiap pagi pukul 04.30. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Belum genap pukul 06.00, suasana di selatan Simpang Lima Banyuwangi, Jawa Timur, sudah menggeliat. Deru kendaraan berpadu dengan suara gemericik air dari sumber kecil di pinggir jalan.

Di sanalah, Warung Kaliseng berdiri—menjadi magnet warga yang berburu sarapan sederhana, tapi penuh rasa.

Menu utamanya tak neko-neko: ketan kirip hangat dengan taburan bubuk kedelai dan parutan kelapa. Namun, justru dari kesederhanaan itu, warung milik Ani Yudi mampu mencuri hati pelanggan lintas generasi.

Baca Juga: Kisah Abdul Latif Penjual Bakso Banyuwangi, Berjuang Sejak 1998 hingga Raup Omzet Rp 2,5 Juta per Hari

“Alhamdulillah, sejak buka sampai sekarang tetap ramai. Banyak yang datang khusus cari ketan kirip,” ujar Ani.

Warung yang berdiri sejak 2022 itu kini menjelma menjadi salah satu jujugan kuliner pagi di Banyuwangi. Lokasinya strategis, berada di Jalan Ahmad Yani, sekitar 200 meter di selatan Simpang Lima, sisi timur jalan.

Nama “Kaliseng” sendiri berasal dari sejarah lokasi. Dahulu, area tersebut berada di pinggir aliran sungai kecil dan dikelilingi seng. Kini, wajahnya berubah lebih tertata. Bahkan, area dekat sumber air telah direvitalisasi, lengkap dengan meja dan kursi sederhana untuk pengunjung.

Sensasi menikmati ketan kirip sambil menyeruput kopi atau minuman sere gula aren di tepi sumber air menjadi daya tarik tersendiri. Suasana santai itu membuat banyak pelanggan betah berlama-lama.

Baca Juga: Cuma 5 Bahan, Ini Resep Ketan Mangga Viral yang Cocok untuk Jualan

Warung ini buka sejak selepas subuh hingga sekitar pukul 15.00. Pola pengunjung pun terbaca jelas. Pagi hari didominasi kalangan orang tua dan jamaah masjid. Menjelang siang, giliran anak muda yang datang untuk sekadar ngopi dan bercengkerama.

“Kalau habis subuh biasanya bapak-bapak datang. Siang anak-anak muda yang ramai,” kata Ani.

Tak hanya ketan kirip, Warung Kaliseng juga menawarkan beragam pilihan. Sekitar 20 jenis gorengan tersedia setiap hari. Mulai dari pisang goreng, tape goreng, onde-onde, pastel, hingga jajanan tradisional lain seperti mendut dan kucur.

Pilihan minuman pun lengkap. Dari kopi, teh, jahe, susu jahe, hingga minuman khas sere gula aren yang menjadi favorit pelanggan. Selain itu, tersedia juga menu berat seperti nasi kuning dan mie goreng.

Baca Juga: Pecel Peyek Ombo Mbok Sarti di Muncar Banyuwangi, Sensasi Pedas Legendaris yang Bikin Ketagihan

Harga yang ditawarkan terbilang ramah di kantong. Aneka gorengan dibanderol seragam Rp 1.000 per buah. Dengan uang Rp 10 ribu, pengunjung sudah bisa sarapan kenyang.

“Pokoknya lengkap, tinggal pilih sesuai selera,” imbuh Ani.

Tingginya minat pelanggan membuat produksi ketan kirip harus dikebut setiap hari. Dalam sehari, warung ini bisa menghabiskan hingga 10 kilogram beras ketan. Bahkan, sebelum pukul 08.00, menu andalan tersebut sudah ludes.

“Jam delapan biasanya sudah habis. Kalau gorengan bisa sampai siang,” jelasnya.

Tak hanya ketan, sekitar 2.000 potong gorengan juga habis terjual setiap hari. Kondisi ini membuat omzet Warung Kaliseng terbilang fantastis untuk ukuran warung tradisional.

Pada hari biasa, Ani bisa meraup sekitar Rp 2 juta per hari. Sementara saat akhir pekan, omzetnya melonjak hingga Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta.

Baca Juga: Rawon Mak Tini Bertahan 100 Tahun: Legenda Rasa yang Bertahan, Tapi Terancam Berhenti di Generasi Ketiga

Kesuksesan itu tidak diraih sendirian. Ani dibantu suami, anak, serta empat kerabat. Untuk menjaga variasi menu, sebagian jajanan dipasok dari pelaku usaha lain.

“Saya fokus di ketan kirip dan minuman. Yang lain dari pemasok,” katanya.

Meski tanpa resep rahasia, Ani menegaskan kunci usahanya terletak pada konsistensi kualitas. Semua makanan disajikan dalam kondisi hangat, terutama saat pagi hari.

Selain itu, ia mengaku selalu mengawali aktivitas dengan doa. Baginya, usaha bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga keberkahan.

Warung Kaliseng kini bukan sekadar tempat makan. Ia telah menjadi ruang sosial—tempat warga bertemu, berbincang, dan melepas penat.

Tak heran jika warung ini juga kerap dikunjungi berbagai kalangan, termasuk pejabat daerah saat akhir pekan.

Baca Juga: Ayam Pedas Legendaris Mbok Wo Pesanggaran Banyuwangi, Sehari Habiskan 50 Ekor Ayam Kampung sejak 1955

“Saya suka ke sini karena murah dan enak. Ketan kiripnya paling favorit,” ujar Novi, warga Penganjuran.

Hal serupa disampaikan Sofyan, warga Tamanbaru. Ia mengaku hampir setiap hari datang untuk menikmati suasana pagi di Kaliseng.

“Minuman sere jahe gula arennya enak, bikin badan segar. Habis subuh cocok sekali ke sini,” katanya.

Di tengah menjamurnya kafe modern, Warung Kaliseng membuktikan bahwa cita rasa tradisional dan suasana sederhana tetap punya tempat di hati masyarakat. Bahkan, menjadi legenda baru di tengah kota Banyuwangi. (aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Warung Kaliseng Banyuwangi #ketan kirip Banyuwangi #kuliner pagi Banyuwangi #kopi pagi Kaliseng #jajanan tradisional