Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gurihnya Ketan Kirip Legendaris Penataban Banyuwangi, Murah Meriah tapi Bikin Ketagihan

Bagus Rio Rohman • Sabtu, 25 April 2026 | 03:00 WIB
MASIH HANGAT: Mutimah memarut kelapa untuk toping menu ketan kirip dan ketan jagung di teras rumahnya Penataban, Giri, Jumat (24/4). (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)
MASIH HANGAT: Mutimah memarut kelapa untuk toping menu ketan kirip dan ketan jagung di teras rumahnya Penataban, Giri, Jumat (24/4). (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di saat sebagian orang masih terlelap, aktivitas sudah menggeliat di sudut sederhana Penataban, Kecamatan Giri. Aroma ketan hangat dan kopi mengepul menjadi penanda dimulainya hari.

Dari lapak kecil itulah, Samsi dan Mutimah merajut rezeki—dan mimpi besar untuk keluarganya.

Berbeda dari hiruk-pikuk kuliner modern, warung sederhana milik pasangan suami istri ini justru menawarkan kesederhanaan yang dicari banyak orang. Menu andalannya: ketan kirip dan ketan jagung. Dua sajian tradisional yang kini menjadi favorit warga untuk sarapan.

Baca Juga: Resep Sego Tempong Banyuwangi: Rahasia Sambal Pedasnya Bikin Lidah Seperti Ditampar!

Lapak yang berada tak jauh dari lapangan Giri itu buka singkat, hanya dari pukul 05.00 hingga 08.00. Namun dalam waktu terbatas tersebut, pembeli datang silih berganti. Mulai anak muda hingga orang tua, semua berburu sarapan hangat sebelum memulai aktivitas.

Puncak keramaian biasanya terjadi selepas subuh, ketika para jamaah masjid selesai beribadah. Mereka singgah, menikmati ketan hangat ditemani kopi, sembari bercengkerama ringan.

Tak hanya ketan, Samsi dan Mutimah juga menyediakan aneka jajanan seperti pisang goreng dan minuman hangat. Namun, ketan kirip tetap menjadi primadona yang membuat pelanggan kembali lagi.

Perjalanan usaha mereka tidak instan. Pasangan yang menikah pada 1998 itu memulai dengan modal kecil dan harapan besar. Awalnya, mereka hanya mampu menjual dua kilogram ketan per hari.

Baca Juga: Ayam Pedas Legendaris Mbok Wo Pesanggaran Banyuwangi, Sehari Habiskan 50 Ekor Ayam Kampung sejak 1955

Untuk menyambung hidup, berbagai usaha dilakukan. Siang hari mereka berjualan es campur, sore beralih ke gorengan. Tenaga dan waktu terkuras, hingga akhirnya mereka mengambil keputusan penting: fokus pada satu jenis usaha.

“Kami akhirnya memilih fokus jualan ketan saja. Pelan-pelan kami kembangkan,” ujar Samsi.

Inovasi pun dilakukan. Dari yang semula hanya ketan kirip, mereka menambah varian seperti ketan jagung dan ketan merah. Namun, tidak semua berjalan mulus. Ketan merah yang sempat diminati pelanggan sulit diproduksi secara konsisten.

Dengan berbagai pertimbangan, mereka kembali menyederhanakan menu. Kini, hanya ketan kirip dan ketan jagung yang dipertahankan—dua varian yang justru paling diminati.

Baca Juga: Rawon Mak Tini Banyuwangi: Kuah Hitam Pekat Bikin Ketagihan! Bertahan Seabad, Menang Rasa di Tengah Gempuran Kuliner Modern

Harga yang ramah di kantong menjadi daya tarik tersendiri. Satu porsi ketan dibanderol Rp 3.000. Murah, tetapi tetap mengenyangkan.

Seiring waktu, usaha kecil ini menunjukkan hasil. Setiap hari, sekitar delapan kilogram ketan ludes terjual. Bahkan saat akhir pekan, jumlahnya bisa meningkat hingga sepuluh kilogram.

Dari penjualan itu, mereka mampu meraup omzet sekitar Rp 300 ribu per hari. Angka yang cukup untuk menopang kebutuhan keluarga—dan lebih dari itu, membiayai pendidikan anak.

Di balik kesuksesan tersebut, ada kerja keras tanpa kompromi. Setiap hari, Samsi dan Mutimah harus bangun di tengah malam untuk memasak ketan agar siap dijual saat fajar tiba.

Rutinitas itu dijalani tanpa keluhan, meski tubuh lelah. Bagi mereka, keluarga adalah alasan utama untuk terus bertahan.

Baca Juga: Bakso Subuh dan Bakso Dini Hari di Banyuwangi, Dari Abdul Latif hingga Pak Aris Jadi Buruan Penikmat Kuliner

“Dulu berat sekali. Jualan sedikit, capek karena harus bagi waktu. Tapi kami jalani saja pelan-pelan. Yang penting halal dan cukup untuk keluarga,” ungkap Samsi.

Tak hanya berdagang, Samsi juga bekerja sebagai staf di Kelurahan Mojopanggung. Setelah berjualan, ia harus bergegas ke kantor sebelum pukul 07.00.

Kedisiplinan menjadi kunci. Dari bangun tengah malam, memasak, berjualan, hingga bekerja di kantor, semua dijalani dalam satu ritme yang tak mudah.

“Capek pasti. Tapi kalau ingat anak-anak, jadi semangat lagi,” katanya.

Hasilnya nyata. Dari usaha sederhana tersebut, mereka berhasil menyekolahkan kedua anak hingga jenjang sarjana. Sebuah capaian yang menjadi kebanggaan tersendiri.

Baca Juga: Pecel Peyek Ombo Mbok Sarti di Muncar Banyuwangi, Sensasi Pedas Legendaris yang Bikin Ketagihan

“Alhamdulillah, bisa menyekolahkan anak sampai sarjana. Itu yang paling kami syukuri,” tutupnya.

Di tengah gempuran kuliner kekinian, kisah Samsi dan Mutimah menjadi pengingat: kerja keras, ketekunan, dan kesederhanaan tetap punya tempat—bahkan mampu membawa mimpi menjadi nyata. (rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#ketan kirip Penataban #ketan jagung Banyuwangi #kuliner pagi Giri #kisah pedagang ketan #usaha kecil sukses