Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ayam Pedas Legendaris Mbok Wo Pesanggaran Banyuwangi, Sehari Habiskan 50 Ekor Ayam Kampung sejak 1955

Salis Ali Muhyidin • Sabtu, 11 April 2026 | 08:00 WIB
SUPER PEDAS: Kurniadi memperlihatkan menu ayam pedas Mbok Wo yang berlokasi di Dusun Rejoagung, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
SUPER PEDAS: Kurniadi memperlihatkan menu ayam pedas Mbok Wo yang berlokasi di Dusun Rejoagung, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Berwisata ke wilayah selatan Banyuwangi rasanya belum lengkap jika belum mencicipi kuliner legendaris Ayam Pedas Mbok Wo di Kecamatan Pesanggaran.

Warung sederhana yang berada di Dusun Rejoagung, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, ini sudah berdiri sejak 1955 dan hingga kini tetap menjadi favorit wisatawan maupun warga lokal.

Menu andalannya adalah ayam kampung dengan kuah pedas khas Banyuwangi yang terkenal menggigit dan bikin ketagihan.

Tak heran, dalam sehari warung ini mampu menghabiskan hingga 50 ekor ayam kampung.

Dekat Destinasi Wisata Populer

Lokasi warung Mbok Wo cukup strategis karena berada tidak jauh dari sejumlah destinasi wisata populer di Pesanggaran, seperti Pulau Merah dan Teluk Ijo.

Kedekatan dengan kawasan wisata membuat warung ini nyaris tak pernah sepi pengunjung, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.

Mulai wisatawan, pekerja, petani, hingga pejabat daerah disebut pernah mampir untuk menikmati sajian khasnya.

Pedas Asli Cabai Rawit

Pemilik warung, Kurniadi (54), mengatakan ciri khas utama menu di tempatnya adalah rasa pedas yang benar-benar berasal dari cabai rawit.

“Kalau warung ini pedasnya asli cabai rawit, bukan merica. Jadi pedasnya benar-benar pedas,” ujarnya.

Setiap hari, ia menyiapkan belasan hingga puluhan kilogram cabai rawit yang dimasak bersama aneka rempah tradisional.

Kuah pedas tersebut kemudian dipadukan dengan ayam kampung yang telah dibakar lalu dipotong kecil-kecil.

Perpaduan aroma bakaran dan kuah pedas inilah yang menjadi daya tarik utama.

Sehari Bisa Habiskan 50 Ekor Ayam Kampung

Dalam sehari, Kurniadi mengaku menghabiskan sekitar 20 hingga 50 ekor ayam kampung, tergantung jumlah pengunjung.

Ia menegaskan sejak dulu warungnya selalu menggunakan ayam kampung asli demi menjaga kualitas rasa.

Jika stok ayam kampung sulit didapat, ia lebih memilih menutup warung sementara.

“Kalau ayam sedang sulit dicari, lebih baik saya tutup warung daripada menurunkan kualitas,” tegasnya.

Selain ayam, warung ini juga menggunakan telur bebek sebagai pelengkap.

Konsep Sajian Unik

Saat pelanggan datang, mereka biasanya tidak ditanya hendak memesan apa.

Kurniadi langsung menyajikan satu mangkuk besar berisi ayam bakar potong, telur rebus, dan kuah pedas.

Sistem pembayarannya pun cukup unik.

Pelanggan hanya membayar sesuai jumlah potongan ayam yang diambil.

“Yang penting diambil bersih pakai sendok,” katanya sambil tersenyum.

Bagi pelanggan yang kurang menyukai pedas, tersedia ati, ampela, dan usus ayam goreng yang disajikan terpisah.

Sebagai pelengkap, tersedia lalapan gratis serta nasi yang bisa diambil sendiri sepuasnya.

“Kalau mau tambah nasi, tinggal tambah. Bebas sekuatnya,” ujarnya sambil tertawa.

Berdiri Sejak 1955

Warung ini merupakan usaha turun-temurun keluarga.

Awalnya didirikan oleh neneknya, Saminem, pada 1955.

Setelah sang nenek meninggal, warung sempat tutup beberapa bulan.

Kemudian pada 1994, Kurniadi memutuskan merintis kembali usaha keluarga tersebut.

Ia mengaku belajar memasak dari asisten yang dulu membantu neneknya.

“Awalnya coba-coba mencari rasa yang paling mirip dengan masakan mbah,” tuturnya.

Setelah melalui banyak percobaan, pelanggan akhirnya mengakui rasa masakannya mirip dengan resep asli sang nenek.

Dari Mulut ke Mulut

Menariknya, warung Mbok Wo berkembang tanpa promosi besar-besaran.

Menurut Kurniadi, promosi terbaik adalah kualitas rasa.

“Promosinya dari mulut ke mulut. Kalau masakannya enak, pembeli yang akan cerita sendiri,” katanya.

Cara promosi alami inilah yang membuat warung tetap eksis selama puluhan tahun.

Biayai Keluarga hingga Berangkat Haji

Usaha kuliner legendaris ini juga menjadi sumber kesejahteraan keluarga.

Dari hasil berjualan ayam pedas, Kurniadi mengaku mampu membiayai rumah, kendaraan, pendidikan anak dan adiknya, hingga mendaftar haji bersama istri.

“Alhamdulillah, banyak yang bisa diraih dari sini,” pungkasnya.

Tak heran jika Ayam Pedas Mbok Wo kini menjadi salah satu ikon wisata kuliner wajib saat berkunjung ke Banyuwangi selatan. (sas/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#wisata kuliner Banyuwangi #ayam pedas Mbok Wo #kuliner Pesanggaran #ayam kampung pedas #kuliner legendaris