RADARBANYUWANGI.ID – Aroma manis dan tajam durian langsung menyergap siapa pun yang memasuki Desa Songgon, Banyuwangi, akhir pekan lalu.
Bukan sekadar panen raya biasa, kawasan di lereng Gunung Raung itu berubah menjadi pusat perhatian dalam gelaran Durian Fest 2026 yang berlangsung pada 4–5 April 2026.
Festival ini menjadi panggung adu kualitas durian lokal sekaligus strategi besar untuk mengangkat pamor durian Banyuwangi agar mampu bersaing di pasar global.
Ajang Adu Kualitas Durian Lokal
Dipusatkan di Kantor Desa Songgon, festival tahun ini mengusung misi khusus, yakni menemukan varietas durian unggulan atau yang disebut sebagai “emas hijau” Banyuwangi.
Dua kategori utama menjadi sorotan, yaitu Kontes Durian Lokal Premium yang diikuti 26 peserta serta Kontes Durian Warna dengan 18 varietas eksotis khas Banyuwangi.
Wakil Ketua Panitia Durian Fest 2026, Hariyanto, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar ajang hiburan, tetapi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing durian lokal.
“Kita ingin durian Banyuwangi naik kelas. Targetnya bukan hanya dikenal secara lokal atau nasional, tetapi juga mampu menembus pasar global,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
Juri Nasional Turun Gunung
Untuk menjaga kualitas penilaian, panitia menghadirkan juri berpengalaman, salah satunya Nur Mualif dari Durian Traveler Store.
Ia didampingi tokoh lokal seperti Kepala Desa Songgon M. Qodri serta Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Durian Merah Banyuwangi, Selamet Baktiman.
Selamet menyebut ajang ini sebagai momentum penting bagi petani untuk terus meningkatkan kualitas produksi.
“Kami ingin menemukan durian terbaik dari Banyuwangi sekaligus mendorong petani agar konsisten menjaga kualitasnya,” kata Selamet.
Karakter “Nglanyet” Jadi Ciri Khas
Nur Mualif mengaku terkesan dengan karakter durian Banyuwangi, khususnya kategori durian warna yang dinilai memiliki identitas kuat.
Menurutnya, durian Banyuwangi memiliki kombinasi rasa manis dan pahit yang khas, dengan tekstur lembut dan creamy.
“Teksturnya lembut, tidak hancur, dan ada sensasi ‘nglanyet’ yang khas. Ini yang membuatnya berbeda dari durian daerah lain,” jelasnya.
Ia juga menemukan beberapa varietas unggulan dari jenis Durio zibethinus yang dinilai memiliki kualitas premium. Dari seluruh peserta, terdapat tiga durian yang sangat menonjol dan lima lainnya masuk dalam kategori observasi.
Aroma Kuat Jadi Keunggulan
Selain rasa, aroma durian Banyuwangi juga menjadi keunggulan tersendiri.
“Baunya sangat kuat dan punya karakter khas. Ini justru menjadi daya tarik utama di pasar,” tambahnya.
Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya perawatan tanaman dan pemenuhan nutrisi agar kualitas durian tetap terjaga.
Festival Meriahkan Ekonomi Lokal
Tak hanya kontes, Durian Fest 2026 juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan lain seperti bazar durian dan UMKM, sarasehan pengembangan budidaya, hingga kegiatan olahraga seperti fun run dan zumba.
Puncak acara ditandai dengan pengumuman pemenang kontes serta sesi makan durian sepuasnya yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
Kegiatan ini turut memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal, mulai dari petani, pelaku UMKM, hingga sektor pariwisata.
Banyuwangi Bidik Pasar Global
Melalui festival ini, Banyuwangi semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu sentra durian unggulan di Indonesia.
Dengan keunikan rasa, warna, dan aroma yang dimiliki, durian Banyuwangi diyakini memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional.
Durian Fest 2026 menjadi bukti bahwa inovasi dan kolaborasi antara pemerintah, petani, dan masyarakat mampu mendorong komoditas lokal naik kelas hingga ke panggung dunia. (*)
Editor : Ali Sodiqin