RADARBANYUWANGI.ID – Kuliner bakso di Banyuwangi semakin menjamur dengan konsep jam buka yang unik dan menyesuaikan kebutuhan pelanggan. Tidak hanya buka siang atau sore, sejumlah warung bakso kini hadir sejak subuh bahkan hingga dini hari.
Fenomena ini terlihat dari dua warung yang cukup dikenal masyarakat, yakni bakso pagi milik Abdul Latif di Lingkungan Dempo, Singotrunan yang mulai buka pukul 05.00 WIB, serta Bakso Malam Pak Aris di Jalan Kalilo, Pengantigan yang melayani pembeli mulai pukul 22.00 WIB hingga 01.30 WIB.
Kehadiran dua warung dengan jam operasional ekstrem ini menjadi bukti bahwa bakso tetap menjadi salah satu kuliner favorit warga Banyuwangi kapan pun waktunya.
Saat Warga Terlelap, Pak Aris Mulai Menjemput Rezeki
Ketika sebagian besar warga mulai beristirahat, roda kehidupan Tukairi alias Pak Aris (53) justru mulai bergerak.
Pria yang tinggal di Jalan Babakan, Desa Kedayunan, RT 3 RW 2, Kecamatan Kabat itu setia mengais rezeki lewat gerobak bakso yang ia dorong setiap malam.
Usaha yang diberi nama Bakso Malam Pak Aris sudah digelutinya sejak 1994, saat usianya masih 21 tahun.
Artinya, lebih dari 30 tahun Pak Aris bertahan di tengah persaingan kuliner yang terus berkembang.
“Dari dulu ya jualan bakso ini, mulai umur 21 tahun. Alhamdulillah sampai sekarang masih bisa jalan,” ujarnya.
Di balik sunyinya malam di Jalan Kalilo, perjuangan Pak Aris menjadi cerita tentang ketekunan dan kesabaran.
Dari Keliling Kampung, Kini Mangkal di Jalan Kalilo
Pada awal merintis usaha, Pak Aris berjualan dengan cara berkeliling kampung.
Gerobak sederhana yang dipasang pada sepeda motor Supra Fit menjadi andalan untuk menjajakan bakso dari satu kampung ke kampung lain.
Namun kini, ia memilih mangkal di satu titik yang sudah cukup dikenal pelanggan, yakni di Jalan Kalilo, Pengantigan, menumpang di depan rumah warga.
Meski tidak lagi keliling, rutinitasnya tetap berat.
Setiap malam, ia harus pulang-pergi dari Kedayunan ke Kota Banyuwangi demi membuka lapak.
“Kalau sekarang sudah nggak keliling, mangkal di Kalilo. Tapi tetap tiap malam pulang-pergi dari Kedayunan,” jelasnya.
Bakso miliknya mulai buka pukul 22.00 WIB dan biasanya tutup sekitar 00.30 hingga 01.30 WIB.
Bakso Gajeh Jadi Menu Favorit Pelanggan
Dalam sehari, Pak Aris mengolah sekitar 10 kilogram daging sapi menjadi bakso.
Menu yang disajikan cukup beragam, mulai dari bakso halus hingga bakso kasar.
Namun, satu menu yang paling banyak diburu pelanggan adalah bakso gajeh.
Bakso ini memiliki isian lemak atau gajih yang gurih, sehingga menghadirkan cita rasa khas yang berbeda dari bakso biasa.
“Yang paling dicari itu bakso gajeh, rasanya lebih gurih. Banyak pelanggan yang suka,” sebutnya.
Menu ini menjadi favorit, terutama bagi pelanggan malam yang mencari sensasi kuah hangat dan rasa gurih yang kuat.
Harga Tetap Rp 10 Ribu, Meski Bahan Baku Naik
Di tengah kenaikan harga bahan baku, Pak Aris memilih tetap mempertahankan harga agar tetap terjangkau masyarakat.
Satu porsi bakso masih dijual dengan harga Rp 10 ribu.
Keputusan itu diambil agar pelanggan tetap nyaman dan tidak terbebani.
“Yang penting tetap laku dan pelanggan senang. Saya nggak berani mahal-mahal,” imbuhnya.
Konsistensi harga dan rasa menjadi salah satu alasan mengapa pelanggan tetap setia datang hingga kini.
Omzet Rp 300 Ribu per Hari, Sukses Sekolahkan Anak
Dari hasil berjualan bakso malam, Pak Aris mampu meraih omzet sekitar Rp 300 ribu per hari.
Meski terlihat sederhana, hasil tersebut cukup untuk menopang kebutuhan keluarga.
Lebih dari itu, usaha bakso ini juga menjadi jalan untuk menyekolahkan anak-anaknya.
“Alhamdulillah dari jualan ini bisa menyekolahkan anak-anak. Itu yang paling saya syukuri,” ungkapnya.
Saat ini, satu anaknya telah lulus, satu masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi, dan satu lagi sedang mondok.
Mulai Diteruskan Anak Pertama
Usaha yang telah dirintis lebih dari tiga dekade ini kini mulai diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pak Aris mengaku anak pertamanya sudah mulai ikut membantu berjualan setiap malam.
“Anak pertama sekarang saya ajari pelan-pelan, biar nanti bisa nerusin,” jelasnya.
Baginya, bakso bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga warisan perjuangan keluarga yang ingin terus dijaga.
Bakso Jadi Kuliner Fleksibel di Banyuwangi
Fenomena bakso subuh dan bakso dini hari menunjukkan betapa fleksibelnya kuliner ini dalam memenuhi kebutuhan masyarakat Banyuwangi.
Dari pekerja pagi yang berburu sarapan hangat hingga pelanggan malam yang mencari pengganjal lapar, bakso tetap menjadi pilihan utama.
Mulai dari bakso subuh Abdul Latif di Singotrunan hingga Bakso Malam Pak Aris di Kalilo, keduanya menjadi bukti bahwa cita rasa dan ketekunan mampu menjaga pelanggan tetap datang. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin