RADARBANYUWANGI.ID – Saat sebagian besar orang masih terlelap dalam tidur, Abdul Latif sudah memulai aktivitasnya demi menjemput rezeki. Sejak pukul 05.00 WIB, pria asal Banyuwangi itu telah sibuk menggiling daging sapi dan menyiapkan bahan baku untuk bakso yang menjadi tumpuan hidup keluarganya.
Rutinitas itu telah dijalani selama puluhan tahun.
Dua setengah jam berselang, tepat pukul 07.30 WIB, lapak bakso miliknya mulai buka. Sejak pagi hingga siang, pembeli datang silih berganti.
Mulai dari pekerja, pelajar, hingga warga sekitar, hampir semuanya sudah akrab dengan cita rasa bakso racikan Abdul Latif.
Lapak sederhana tersebut tetap ramai hingga pukul 13.00 WIB.
Berawal dari Jualan Bersama Sang Ayah di SMP 3 Banyuwangi
Perjalanan usaha Abdul Latif bukan sesuatu yang instan.
Usaha bakso yang kini dikenal luas itu berawal sejak tahun 1998, saat dirinya mengikuti jejak sang ayah.
Kala itu, Latif bersama ayahnya berjualan secara sederhana di halaman SMP 3 Banyuwangi.
Namun, perjalanan usaha mereka sempat terganjal aturan sekolah yang melarang aktivitas berdagang di area pendidikan.
Larangan itu memaksa mereka mencari cara lain agar usaha tetap berjalan.
“Dulu saya ikut bapak jualan di sekolah. Setelah tidak boleh, saya sempat keliling kampung tiap pagi,” kenang Latif.
Dari sinilah perjuangan panjang dimulai.
Pernah Jualan Keliling Kampung Tiap Pagi
Tak menyerah dengan keadaan, Latif terus berjualan dengan cara berkeliling kampung setiap pagi.
Dengan modal semangat dan tekad bertahan, ia menyusuri gang-gang perkampungan untuk menawarkan bakso kepada warga.
Perjuangan itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya ia memberanikan diri mengambil langkah besar.
Latif mengontrak sebidang tanah sederhana di dekat area persawahan.
Lokasi itulah yang kini menjadi tempat ia menggantungkan hidup.
Keputusan tersebut menjadi titik balik penting dalam perjalanan usahanya.
Bakso Mercon Jadi Menu Favorit Pelanggan
Dari lapak sederhana itu, rezeki mulai datang perlahan.
Pelanggan terus berdatangan, hingga kini warung baksonya hampir tak pernah sepi.
Untuk memanjakan pembeli, Latif menghadirkan beberapa varian menu bakso.
Di antaranya:
-
bakso halus
-
bakso kasar
-
bakso mercon
Dari semua menu yang tersedia, bakso mercon menjadi favorit pelanggan.
Menu ini paling banyak diburu, terutama oleh kalangan anak muda.
Sensasi pedas dari cabai yang berada di dalam pentol menjadi daya tarik utamanya.
“Kalau yang mercon itu paling banyak dicari, terutama anak-anak muda. Pedasnya beda,” paparnya.
10 Kilogram Daging Habis dalam Sehari
Dalam sehari, Abdul Latif mengolah sekitar 10 kilogram daging sapi untuk dijadikan bakso.
Jumlah tersebut hampir selalu habis terjual.
Tingginya minat pelanggan membuat lapaknya mampu mencatat omzet yang cukup besar.
Dari usaha ini, Latif mengaku bisa meraup pendapatan hingga Rp 2,5 juta per hari.
Angka tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras dan konsistensi menjaga rasa mampu menghadirkan hasil yang manis.
Harga Naik, Kualitas Tetap Dijaga
Meski usaha terus berkembang, Latif mengakui tantangan tetap ada.
Salah satunya adalah kenaikan harga bahan baku.
Karena itu, ia terpaksa menyesuaikan harga jual.
Jika sebelumnya satu porsi bakso dibanderol Rp 7.000, kini naik menjadi Rp 10.000.
Namun, ia memastikan kualitas rasa tetap menjadi prioritas utama.
“Terpaksa naik karena harga bahan-bahan juga ikut naik. Tapi saya tetap jaga kualitas, jangan sampai pelanggan kecewa,” ungkapnya.
Baginya, menjaga kepercayaan pelanggan jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar keuntungan.
Dari Bakso, Sukses Sekolahkan Anak
Di balik semangkuk bakso hangat yang dinikmati pelanggan, tersimpan kisah panjang perjuangan seorang ayah.
Dari hasil berjualan bakso, Abdul Latif mampu membiayai pendidikan anak-anaknya.
“Alhamdulillah, dari bakso ini saya bisa menyekolahkan anak-anak,” sebutnya.
Anak pertamanya telah lulus dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) atau setara SLTA.
Sementara anak keduanya saat ini sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren di wilayah Kalipuro.
Bagi Latif, keberhasilan menyekolahkan anak adalah kebahagiaan terbesar dari hasil kerja kerasnya selama ini.
Usaha Juga Menghidupi Tetangga Sekitar
Tidak hanya menghidupi keluarga, usaha bakso Latif juga memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Kini, ia mempekerjakan beberapa tetangganya untuk membantu operasional sehari-hari.
Mulai dari persiapan bahan, meracik kuah, hingga melayani pembeli.
“Kalau usaha ini ramai, saya juga senang bisa ngajak tetangga ikut kerja. Biar sama-sama merasakan,” jelasnya.
Keberadaan usahanya pun menjadi sumber penghidupan tambahan bagi warga sekitar.
Jaga Warisan Keluarga dan Harapan Masa Depan
Bagi Abdul Latif, berjualan bakso bukan sekadar mencari nafkah.
Lebih dari itu, usaha ini adalah warisan keluarga yang harus dijaga.
Ia percaya bahwa kejujuran dan konsistensi rasa adalah fondasi utama dalam mempertahankan usaha.
“Yang penting jujur sama pembeli dan konsisten rasa. Rezeki itu pasti ada jalannya,” pesannya.
Kisah Abdul Latif menjadi bukti bahwa kerja keras sejak subuh, ketekunan, dan kejujuran mampu mengubah usaha sederhana menjadi sumber penghidupan yang membanggakan. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin