RADARBANYUWANGI.ID – Bagi penikmat kuliner Banyuwangi, terutama generasi era 2000-an, nama Bakso Kondusif Pak Yanto tentu sudah tidak asing lagi. Kedai bakso yang berada di Jalan Prambanan, Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi itu hingga kini tetap menjadi salah satu tujuan utama pecinta bakso.
Setiap kali buka, area parkir nyaris tak pernah sepi. Deretan sepeda motor dan mobil memenuhi halaman, menandakan tingginya minat pelanggan yang datang untuk menikmati sajian bakso khas dengan sistem prasmanan.
Di balik popularitasnya saat ini, tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan dari sang perintis, Riyanto (66), yang akrab dikenal sebagai Pak Yanto.
Berawal dari Gerobak Keliling Sejak 1987
Pak Yanto memulai usaha baksonya sejak tahun 1987. Kala itu, ia masih berjualan menggunakan gerobak keliling di sekitar wilayah Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung.
Pria asal Trenggalek tersebut mengaku sempat kembali ke kampung halamannya sebelum akhirnya menetap lagi di Banyuwangi dan melanjutkan usahanya.
“Tahun 1987 saya mengawali jualan, kemudian sempat kembali ke Trenggalek. Tahun 89 ke Banyuwangi lalu berjualan lagi,” kata Riyanto.
Keahlian meracik bakso didapatnya dari lingkungan keluarga. Beberapa anggota keluarganya juga berprofesi sebagai pedagang bakso di Malang maupun Banyuwangi.
Ia bahkan sempat belajar langsung dengan membantu usaha kakaknya.
Pernah Jualan di Dalam Sekolah
Saat kembali ke Banyuwangi, Pak Yanto ikut membantu kakaknya berjualan bakso keliling.
Baru pada tahun 1992, dengan modal tabungan hasil bekerja, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri.
Rutenya saat itu cukup dikenal masyarakat kota, yakni dari Simpang Lima hingga Sekolah Teknik (ST) Banyuwangi, yang kini menjadi SMPN 5 Banyuwangi.
Sasaran utamanya adalah para pelajar.
“Waktu itu banyak anak sekolah yang beli, bahkan sampai rela lompat pagar biar bisa makan bakso. Karena sekolah kerepotan, akhirnya saya diperbolehkan masuk berdagang di dalam ST,” tuturnya.
Dari sinilah nama dan cita rasa baksonya mulai dikenal luas.
Karena dagangannya laris, pihak sekolah bahkan mempercayainya sebagai waker (penjaga sekolah) dan mengizinkannya berjualan di kantin.
Awal Mula Nama Bakso Kondusif
Menariknya, nama Bakso Kondusif ternyata memiliki cerita unik.
Saat awal berjualan di sekolah, Pak Yanto menggunakan nama Bakso Barokah.
Namun, karena nama tersebut dinilai terlalu umum, salah seorang guru menyarankan untuk menggantinya.
Lahir lah nama Bakso Kondusif.
Menurut Pak Yanto, nama itu punya filosofi sederhana namun mengena.
“Setelah makan, jadi nyaman. Jadi kondusif, begitu kira-kira,” ujarnya sambil terkekeh.
Filosofinya, orang yang datang membeli bakso biasanya sedang lapar dan kondisi tubuh belum nyaman.
Setelah makan, perut menjadi tenang dan suasana hati kembali kondusif.
Dari Depan Kejaksaan Hingga Jadi Brand Legendaris
Pada tahun 2001, masa kerja Pak Yanto sebagai penjaga sekolah berakhir.
Ia pun kembali harus memutar otak agar usaha tetap berjalan.
Beruntung, ia berhasil menyewa sebuah kedai kecil di depan Kejaksaan Negeri Banyuwangi.
Sejak saat itu, ia tak lagi berjualan keliling.
Nama Bakso Kondusif mulai dipasang sebagai brand utama.
Awalnya, menu yang dijual masih berupa bakso halus ukuran kecil dan besar.
Namun, sebuah inovasi tak sengaja justru menjadi titik balik usahanya.
Pentol Kasar Jumbo, Menu Tak Sengaja yang Jadi Best Seller
Ciri khas utama Bakso Kondusif hingga saat ini adalah pentol kasar jumbo.
Siapa sangka, menu tersebut awalnya lahir secara tidak sengaja.
Saat itu ada sisa daging yang belum terolah.
Pak Yanto kemudian mencoba mengolahnya menjadi bakso dengan tekstur lebih kasar.
Hasilnya justru di luar dugaan.
“Akhirnya menjadi best seller, waktu itu tidak banyak pedagang yang berani menjual,” kisahnya.
Dari yang awalnya hanya membuat satu butir, kemudian berkembang menjadi lima, hingga akhirnya menjadi menu utama.
Justru pentol kasar inilah yang kemudian membuat Bakso Kondusif semakin legendaris.
Pernah Punya Tujuh Gerobak dan Cabang di Banyak Titik
Pada masa kejayaannya, Bakso Kondusif sempat memiliki tujuh gerobak keliling yang beroperasi di berbagai titik Kota Banyuwangi.
“Semuanya tujuh gerobak itu berjualan di wilayah kota, tapi ya semua laris,” ujar Riyanto.
Tak hanya itu, beberapa mitra juga membuka cabang dengan sistem mirip franchise.
Cabang-cabang tersebut pernah hadir di sekitar:
-
Stasiun Ketapang
-
Koramil Rogojampi
-
dekat Kantor Pemkab Banyuwangi
-
Jalan S Parman
Namun, seiring waktu, kualitas rasa di beberapa cabang mulai berbeda karena ada yang meracik sendiri.
Diteruskan Anak, Kini Lebih Kekinian
Memasuki tahun 2018, tongkat estafet usaha mulai diteruskan putra tunggalnya, Kukuh Santoso (43).
Kukuh sebenarnya sudah membantu usaha keluarga sejak masih duduk di bangku SMA.
Karena sudah memahami resep turun-temurun, ia mulai menghadirkan berbagai inovasi.
“Saya mulai mengikuti tren. Termasuk membawa menu baru dengan kuah pedas,” kata Kukuh.
Selain inovasi menu, konsep pelayanan juga diubah menjadi prasmanan, sehingga pelanggan bisa memilih sendiri isi mangkuk sesuai selera.
Kini Jadi Favorit Semua Generasi
Berkat inovasi tersebut, Bakso Kondusif kini semakin diterima berbagai kalangan.
Tidak hanya pelanggan lama, generasi milenial dan Gen Z juga mulai menjadikannya salah satu kuliner favorit di Banyuwangi.
Sejumlah tokoh nasional dan pejabat pun pernah mampir.
“Pak Abdullah Azwar Anas sempat makan di sini, Pak Kapolres, Dandim, dan Danlanal juga pernah. Kalau artis, Pak Sujiwo Tedjo pernah juga ke sini,” ungkap Kukuh.
Ingin Perluas Tempat
Ke depan, Kukuh berharap usaha yang dirintis ayahnya hampir 40 tahun lalu bisa terus berkembang.
Salah satu impiannya adalah memperluas area kedai, terutama lahan parkir agar mampu menampung lebih banyak pelanggan.
Editor : Ali Sodiqin“Kalau saya inginya semakin luas, supaya bisa menampung semakin banyak kendaraan,” pungkasnya. (fre/aif)