Libur Lebaran 2026, Wisatawan Serbu Kuliner Khas Banyuwangi, Pedagang Bisa Layani 90 Pembeli per Hari

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Jumat, 27 Maret 2026 | 06:05 WIB
LARIS MANIS: Warung nasi Cawuk diserbu pembeli di Kelurahan Kepatihan, Kamis (26/3) pagi. (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)
LARIS MANIS: Warung nasi Cawuk diserbu pembeli di Kelurahan Kepatihan, Kamis (26/3) pagi. (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)

 RADARBANYUWANGI.ID – Momentum libur Lebaran 2026 membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner di Banyuwangi. Tak hanya destinasi wisata alam, deretan kuliner khas daerah ini juga menjadi magnet kuat bagi wisatawan.

Selama musim libur Lebaran, berbagai menu tradisional seperti nasi tempong, ayam kesrut, pecel rawon, hingga sego cawuk diserbu pengunjung. Lonjakan ini tak lepas dari pengaruh ulasan di internet dan media sosial yang semakin mempopulerkan kuliner khas Banyuwangi.

Rekomendasi Online Jadi Penentu

Fenomena meningkatnya kunjungan ke warung kuliner tidak terlepas dari peran rating dan rekomendasi digital. Wisatawan maupun warga yang mudik memanfaatkan informasi tersebut untuk menentukan lokasi kuliner yang wajib dikunjungi.

Andreas, 42, wisatawan asal Lampung Selatan, mengaku selama empat hari berada di Banyuwangi ia aktif berburu kuliner khas daerah.

“Yang paling cocok di lidah itu nasi tempong sama kesrut. Tapi memang harus antre, meskipun datangnya sudah pagi,” ujarnya.

Ia mengunjungi sejumlah warung di kawasan kota Banyuwangi hingga wilayah Kecamatan Licin dan Glagah berdasarkan rekomendasi keluarga dan ulasan daring.

Pedagang Kebanjiran Pembeli

Lonjakan wisatawan berdampak langsung pada peningkatan omzet pelaku UMKM. Salah satunya dirasakan Sri, 46, pedagang sego cawuk asal Kelurahan Kepatihan.

Sri mengaku sengaja membuka warungnya sejak H+1 Lebaran demi memanfaatkan momen tingginya kunjungan wisatawan. Keputusan itu terbukti tepat.

“Biasanya sehari maksimal 60 orang, sekarang bisa lebih dari 90 orang. Itu pun satu orang bisa beli lebih dari satu bungkus,” ungkapnya.

Antrean pembeli bahkan sudah terlihat sejak pagi hari. Kondisi ini jauh berbeda dibanding hari-hari biasa.

UMKM Jadi Wajah Pariwisata Banyuwangi

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan selama libur Lebaran, baik di destinasi wisata maupun sentra UMKM kuliner.

Menurutnya, pelaku UMKM memiliki peran penting sebagai representasi wajah pariwisata daerah. Oleh karena itu, pelayanan dan kualitas produk harus tetap dijaga.

“Kami mendorong pelaku usaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan, karena mereka juga menjadi bagian dari pengalaman wisata di Banyuwangi,” ujarnya.

Imbauan Jaga Harga Tetap Wajar

Selain pelayanan, aspek harga juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Hartono menegaskan agar pelaku usaha tidak menaikkan harga secara berlebihan selama momen liburan.

“Kami harap tidak ada yang memasang harga di luar batas kewajaran. Kalau tidak sesuai, tentu akan membuat wisatawan kurang nyaman,” tegasnya.

Efek Berganda bagi Ekonomi Lokal

Ramainya wisatawan yang berburu kuliner selama Lebaran memberikan efek berganda bagi perekonomian lokal. Tak hanya pedagang makanan, sektor lain seperti transportasi, bahan baku, hingga tenaga kerja ikut terdampak positif.

Fenomena ini menunjukkan bahwa wisata kuliner menjadi salah satu pilar penting dalam menggerakkan ekonomi daerah, khususnya di Banyuwangi yang dikenal kaya akan ragam cita rasa tradisional.

Dengan tren positif ini, Banyuwangi semakin mengukuhkan diri sebagai destinasi wisata kuliner unggulan di Jawa Timur, terutama saat momentum libur panjang seperti Lebaran. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
lebaran Kuliner Sego Cawuk banyuwangi