RADARBANYUWANGI.ID – Ramadan selalu menjadi momen yang sangat dinantikan masyarakat Indonesia.
Di Banyuwangi, tradisi menyambut bulan suci itu diwujudkan melalui pasar takjil bertajuk “Ngerandu Buko” atau menunggu waktu berbuka puasa.
Tradisi ini tak sekadar ajang berburu kuliner, tetapi juga menjadi pusat keramaian dan ruang silaturahmi warga.
Salah satu lokasi paling ikonik berada di kawasan wisata Pantai Boom Marina. Sejak hari pertama puasa, Kamis (19/2/2026), kawasan tersebut langsung diserbu pengunjung.
Warga memadati area pantai untuk ngabuburit sambil menikmati pemandangan kapal-kapal yang bersandar dan panorama senja di ufuk barat.
Suasana semakin semarak menjelang azan magrib. Ratusan orang hilir mudik di antara stan pedagang, memilih menu takjil favorit untuk berbuka.
Surga Kuliner Takjil Khas Banyuwangi
Pengunjung dapat menemukan aneka kudapan khas Banyuwangi dan nusantara. Mulai dari petula (patula), aneka bubur manis, kolak pisang, hingga hidangan tradisional seperti precet dan nasi tempong yang pedas menggoda.
Tak hanya makanan, beragam minuman segar juga tersedia lengkap. Es buah, es campur, jus segar, hingga minuman tradisional menjadi pilihan utama untuk melepas dahaga setelah seharian berpuasa.
Keunikan berburu takjil di Pantai Boom terletak pada suasananya. Warga bisa menikmati hidangan berbuka puasa sambil duduk santai di tepi pantai, ditemani semilir angin laut dan panorama matahari terbenam.
Turis Asing Ikut Berburu Takjil
Menariknya, di tengah kesibukan pasar Ngerandu Buko, tampak sejumlah turis asing ikut berkeliling stan, mencicipi jajanan tradisional, hingga berbincang dengan para pedagang.
Mereka terlihat antusias mengenal lebih dekat budaya Ramadan di Banyuwangi. Salah satunya Glenn, wisatawan asal Amerika Serikat.
Ia mengaku terkesan dengan suasana Ramadan di kota ujung timur Pulau Jawa tersebut.
Menurutnya, pengalaman berburu takjil sambil menikmati panorama senja di tepi pantai menjadi pengalaman budaya yang tak terlupakan.
“Pasar Ramadan ini sangat menarik. Saya tidak menyangka seramai ini perayaan Ramadan di Banyuwangi. Sangat berbeda dengan suasana di Bali maupun Lombok. Ini pengalaman budaya yang luar biasa,” katanya, seperti dikutip dari banyuwangitourism.com.
Kehadiran wisatawan asing ini sekaligus menunjukkan bahwa Ramadan di Banyuwangi bukan hanya perayaan religius, tetapi juga daya tarik wisata budaya.
Libatkan 250 Pedagang, Gerakkan Ekonomi Rakyat
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menjelaskan, pemerintah daerah terus memfasilitasi pasar takjil di berbagai wilayah.
Di Pantai Boom saja, tercatat sekitar 250 pedagang berjualan mulai sore hingga malam hari.
“Pastinya dengan adanya pasar takjil ini ribuan warga dan UMKM terlibat. Momentum ini kita manfaatkan untuk menumbuhkan dan menggerakkan ekonomi rakyat,” kata Ipuk.
Menurutnya, Ramadan menjadi kesempatan emas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan omzet. Perputaran ekonomi di sektor kuliner meningkat signifikan selama bulan puasa.
Keramaian yang terjadi di Pantai Boom juga memberi efek domino bagi sektor lain, seperti parkir, kebersihan, hingga jasa transportasi.
Komitmen Kurangi Sampah Plastik
Selain aspek ekonomi, Pemkab Banyuwangi juga menaruh perhatian serius pada persoalan lingkungan, terutama sampah plastik yang kerap meningkat saat pasar takjil berlangsung.
Ipuk mengimbau pedagang dan pembeli mulai membiasakan diri membawa kantong belanja sendiri dari rumah guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Sampah plastik adalah masalah besar bangsa ini. Program membawa tas belanja sendiri adalah upaya kita melaksanakan komitmen Banyuwangi ASRI guna mendukung kebijakan penanganan sampah,” pungkasnya.
Dengan perpaduan kuliner, wisata, budaya, dan komitmen lingkungan, Ngerandu Buko di Pantai Boom Marina menjadi simbol semarak Ramadan di Banyuwangi.
Tak hanya menghadirkan kehangatan kebersamaan, tradisi ini juga memperkuat ekonomi rakyat dan citra Banyuwangi sebagai destinasi wisata yang hidup sepanjang tahun. (*)
Editor : Ali Sodiqin