Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sego Tempong Banyuwangi Jadi Menu Buka Puasa di Jawa Timur, Pedasnya Itu Lho yang Menggoda Selera

Ali Sodiqin • Senin, 16 Februari 2026 | 15:00 WIB

Sego tempong khas Banyuwangi ramai jadi menu buka puasa.
Sego tempong khas Banyuwangi ramai jadi menu buka puasa.

RADARBANYUWANGI.ID - Jawa Timur selama ini dikenal sebagai salah satu provinsi dengan kekayaan kuliner paling kuat di Indonesia.

Nama-nama seperti rawon, rujak cingur, hingga soto Lamongan sudah lama menjadi ikon dan punya posisi tawar tinggi di kancah kuliner nasional.

Bahkan, ketiga menu tersebut kerap dijadikan “standar emas” untuk menilai kualitas makanan khas Jawa Timur.

Namun di tengah dominasi kuliner legendaris itu, belakangan muncul satu nama yang kian sering diperbincangkan, terutama menjelang bulan Ramadan: sego tempong.

Kuliner khas dari Banyuwangi ini mendadak naik daun dan banyak dijadikan pilihan menu buka puasa, baik di daerah asalnya maupun di berbagai kota besar di Jawa Timur hingga luar provinsi.

Dari Banyuwangi ke Mana-Mana

Dalam beberapa tahun terakhir, sego tempong mengalami lonjakan popularitas. Jika sebelumnya identik dengan warung-warung sederhana di Banyuwangi, kini menu ini mudah ditemui di berbagai kota.

Warung, kedai kaki lima, hingga rumah makan modern ramai-ramai menjadikan sego tempong sebagai menu andalan.

Secara tampilan, sego tempong terlihat sederhana. Sepiring nasi putih disajikan bersama lalapan sayur rebus seperti bayam, kacang panjang, atau kol, dilengkapi lauk pauk seperti tahu, tempe, ayam goreng, hingga ikan. Kunci utama sego tempong terletak pada sambalnya yang terkenal super pedas.

Tak heran, menu ini kerap dilirik sebagai sajian buka puasa. Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, sensasi pedas dianggap mampu “membangunkan” indera perasa dan mengembalikan nafsu makan dengan cepat.

Cocok untuk Buka Puasa, Tapi…

Di momen Ramadan, sego tempong sering dipromosikan sebagai menu buka puasa praktis. Komposisinya lengkap: ada karbohidrat dari nasi, protein dari lauk, serta serat dari sayuran.

Ditambah sambal pedas yang menggugah selera, sego tempong dianggap pas untuk mengisi kembali energi setelah berpuasa.

Namun, di balik popularitasnya, muncul pula kritik—bahkan dari warga Jawa Timur sendiri.

Banyak yang menilai sego tempong sebenarnya “biasa saja” jika dibandingkan dengan kuliner ikonik lain seperti rawon atau soto Lamongan yang punya karakter rasa kuat dan konsisten.

Sekilas, sego tempong memang tidak bermasalah. Paduan nasi, lalapan, lauk, dan sambal adalah kombinasi aman yang hampir selalu berhasil.

Tetapi ketika disejajarkan dengan kuliner besar Jawa Timur lainnya, sego tempong dinilai belum memiliki kedalaman rasa yang khas.

Identitas Rasa yang Dipertanyakan

Salah satu kritik paling sering muncul adalah soal identitas rasa. Banyak penikmat kuliner menilai sego tempong “menjual” pedas semata. Masalahnya, pedas yang dihadirkan sering kali tidak konsisten.

Di satu warung, sambalnya terasa pedas mentah dengan dominasi cabai rawit. Di tempat lain, pedasnya cenderung gurih, bahkan ada yang mengarah ke manis.

Perbedaan ini membuat sego tempong seolah tidak memiliki benang merah yang jelas antarpenyajiannya.

Kondisi ini berbeda dengan rawon yang identik dengan kluwek, atau rujak cingur yang punya ciri khas petis kuat.

Pada sego tempong, rasa pedas menjadi identitas utama, tetapi tanpa standar yang sama antarwarung.

Antara Hype dan Realita

Popularitas sego tempong juga tak lepas dari faktor tren. Media sosial, konten kuliner, dan rekomendasi food vlogger turut mendorong pamornya.

Banyak orang penasaran dan akhirnya mencoba, terutama karena label “pedas ekstrem” yang melekat.

Bagi sebagian orang, sego tempong cukup dicoba sekali. Ada pula yang langsung jatuh cinta dan menjadikannya menu favorit, termasuk untuk buka puasa bersama keluarga atau teman.

Namun tak sedikit pula yang merasa ekspektasinya terlalu tinggi akibat hype, lalu berujung kecewa.

Tetap Punya Tempat di Meja Buka Puasa

Terlepas dari pro dan kontra, sego tempong tetap punya tempat tersendiri, terutama sebagai menu buka puasa yang sederhana, cepat disajikan, dan mengenyangkan.

Bagi pencinta pedas, menu ini bisa menjadi pilihan alternatif selain gorengan atau makanan manis saat berbuka.

Di sisi lain, perdebatan soal identitas rasa justru menjadi tantangan sekaligus peluang. Jika ke depan ada upaya standarisasi atau penguatan ciri khas sambal tempong, bukan tidak mungkin sego tempong bisa naik kelas dan sejajar dengan ikon kuliner Jawa Timur lainnya.

Kesimpulan

Sego tempong kini bukan lagi sekadar makanan lokal Banyuwangi. Ia telah menjelma menjadi menu populer, termasuk sebagai sajian buka puasa di bulan Ramadan.

Sensasi pedasnya memang menggoda, tetapi soal karakter dan identitas rasa masih menjadi perdebatan.

Apakah sego tempong akan bertahan sebagai ikon kuliner Jawa Timur atau sekadar tren sesaat?

Waktu dan inovasi para pelaku kuliner yang akan menjawabnya. Yang jelas, di meja buka puasa, sego tempong sudah berhasil mencuri perhatian. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#menu buka puasa #makanan khas jawa timur #Kuliner #Sego Tempong