RADARBANYUWANGI.ID - Menjemur rengginang merupakan aktivitas yang lazim dilakukan masyarakat Indonesia, khususnya di negara beriklim tropis.
Proses ini umumnya marak saat musim kemarau, ketika sinar matahari tersedia secara optimal sepanjang hari.
Rengginang sendiri dikenal sebagai salah satu camilan tradisional favorit masyarakat Indonesia.
Proses pembuatannya relatif sederhana, yakni dengan merekatkan beras ketan yang telah dikukus dan dicampur bumbu seperti bawang putih, garam, serta terasi.
Setelah dicetak, rengginang dijemur hingga kering sebelum akhirnya digoreng dalam minyak panas dan disajikan.
Namun, muncul pertanyaan menarik, apakah menjemur rengginang dapat dilakukan di negara dengan iklim empat musim?
Kabar baiknya, hal tersebut ternyata memungkinkan, terutama saat musim panas.
Hal ini disampaikan oleh Rima, seorang diaspora Indonesia yang tinggal di Auckland, Selandia Baru.
Ia menjelaskan bahwa proses menjemur rengginang masih dapat dilakukan selama musim panas karena paparan sinar matahari cukup tinggi.
“Selama musim panas, bisa dilakukan, bahkan cepat kering,” ujar Rima pada Jumat (6/2/2026).
Ia menambahkan bahwa pada bulan Februari, yang menandai akhir musim panas di Selandia Baru, paparan sinar ultraviolet (UV) berada pada tingkat yang relatif tinggi.
Kondisi tersebut dimanfaatkan olehnya untuk membuat stok rengginang dalam jumlah banyak.
“Itulah alasan saya membuat banyak stok,” ungkap diaspora asal Kota Malang, Jawa Timur tersebut.
Meski demikian, Rima menegaskan bahwa kondisi ini tidak berlangsung sepanjang tahun.
Berbeda dengan Indonesia yang memiliki iklim tropis, negara empat musim seperti Selandia Baru memiliki keterbatasan waktu untuk aktivitas penjemuran.
Menurutnya, saat musim dingin tiba, proses menjemur rengginang hampir tidak mungkin dilakukan karena minimnya sinar matahari dan suhu udara yang rendah.
“Selama musim dingin, tidak mungkin menjemur rengginang,” pungkasnya.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa kearifan kuliner Indonesia tetap dapat dipraktikkan di luar negeri, meskipun harus menyesuaikan dengan kondisi iklim setempat.
Lantas, apakah ada diaspora Indonesia lain di negara empat musim yang tertarik mencoba menjemur rengginang seperti ini?
Editor : Lugas Rumpakaadi