Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Fakta di Balik Tape Bondowoso, Singkongnya Ternyata Didatangkan dari Luar Daerah

Ali Sodiqin • Minggu, 18 Januari 2026 | 08:30 WIB

ILUSTRASI tape Bondowoso.
ILUSTRASI tape Bondowoso.

RADARBANYUWANGI.ID - Siapa sangka, di balik ketenaran tape Bondowoso yang sudah melegenda hingga ke berbagai daerah, bahan baku utamanya justru bukan berasal dari Bondowoso.

Fakta ini mungkin terdengar mengejutkan, namun diakui para perajin tape, pemilihan bahan baku menjadi kunci utama untuk menjaga kualitas rasa tape yang khas.

Tape Bondowoso dikenal memiliki cita rasa manis, legit, dan aroma yang kuat.

Namun, untuk menghasilkan karakter rasa tersebut, singkong lokal Bondowoso dinilai kurang memenuhi standar kualitas.

Karena itu, para pengusaha tape memilih mendatangkan singkong dari daerah lain.

Hal tersebut disampaikan Gazali, pengusaha tape asal Bondowoso yang telah menekuni usaha ini sejak era 1980-an.

Ia mengungkapkan bahwa kualitas singkong sangat menentukan hasil akhir tape yang diproduksi.

“Kalau ingin hasil tape bagus, singkongnya harus berkualitas. Kami justru mengambil singkong dari daerah Jember yang mutunya lebih bagus karena dipengaruhi keadaan tanahnya yang berpasir,” kata Gazali, seperti dilansir dari Jatimprov.go.id.

Menurut Gazali, tidak semua jenis singkong cocok diolah menjadi tape.

Singkong yang dipilih harus berukuran besar, memiliki warna agak kekuningan, serta tidak terlalu muda.

Usia singkong juga berpengaruh besar terhadap rasa tape yang dihasilkan.

“Singkong muda jelas beda rasanya dengan singkong yang sudah cukup umur. Yang terlalu muda rasanya kurang manis, sementara yang pas bisa menghasilkan tape yang legit,” jelasnya.

Tanah berpasir di wilayah Jember disebut membuat tekstur singkong menjadi lebih padat dan kandungan patinya lebih optimal.

Hal inilah yang membuat singkong dari daerah tersebut lebih cocok untuk proses fermentasi tape dibandingkan singkong lokal Bondowoso.

Tak hanya soal bahan dasar, Gazali juga menekankan bahwa kemasan tape turut berperan penting dalam menjaga aroma dan kualitas produk.

Bungkus tape Bondowoso, kata dia, bahkan didatangkan khusus dari Trenggalek.

“Untuk bungkusnya kami ambil dari Trenggalek. Sementara alas beseknya tidak boleh pakai plastik atau mika,” ujarnya.

Penggunaan bahan plastik atau mika dinilai bisa mengurangi aroma khas tape. Oleh karena itu, para perajin tape Bondowoso disarankan menggunakan daun pisang sebagai alas besek.

“Daun pisang itu memberi aroma harum alami yang membuat tape lebih sedap,” imbuh Gazali.

Faktor-faktor tersebut menjadi alasan mengapa singkong asli Bondowoso jarang digunakan sebagai bahan baku tape.

Meski demikian, hal itu tidak mengurangi identitas tape Bondowoso sebagai ikon kuliner daerah.

Proses pengolahan, teknik fermentasi turun-temurun, hingga ketelitian dalam memilih bahan pendukung justru menjadi kekuatan utama tape Bondowoso.

Perpaduan singkong berkualitas dari luar daerah dan keahlian lokal inilah yang membuat tape Bondowoso tetap memiliki cita rasa khas dan sulit ditiru.

Tak heran jika hingga kini tape Bondowoso masih menjadi oleh-oleh favorit, baik bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.

Di balik rasanya yang manis dan lembut, tersimpan proses panjang dan seleksi bahan yang tidak main-main. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#singkong #tape bondowoso