RADARBANYUWANGI.ID - Sore hari yang dingin selalu punya cara sendiri buat bikin kita mencari sesuatu yang hangat, dan di banyak daerah di Jawa Barat, jawabannya yaitu segelas bajigur.
Aromanya manis-gurih, uapnya naik pelan, dan rasanya seperti pelukan kecil yang datang dari minuman tradisional.
Ada sensasi damai yang muncul tiap kali memegang gelasnya, seolah tubuh langsung paham bahwa ini saatnya istirahat.
Bajigur sendiri berasal dari tanah Sunda, dan sejak dulu sudah jadi teman setia masyarakat di daerah pegunungan.
Namanya sering dikaitkan dengan istilah yang bermakna menyenangkan hati, dan memang cocok, karena dari tegukan pertama saja suasana hati sudah terasa berubah jadi lebih adem.
Walaupun kisah asal-usul detailnya nggak tercatat jelas, kehadirannya sudah lama jadi bagian kehidupan sehari-hari.
Bahan bajigur sebenarnya sederhana, seperti santan, gula aren, sedikit garam, dan rempah seperti jahe atau pandan.
Tapi saat semuanya dimasak bareng, rasanya menyatu dengan lembut, manis tapi tak berlebihan, gurih tapi tetap ringan, ditambah aroma wangi yang bikin betah berlama-lama.
Ada versi yang ditambahi kopi juga, biasanya buat mereka yang pengin sensasi lebih “nendang”.
Dulu, bajigur mudah ditemui dari pedagang keliling yang mendorong gerobak di malam hari. Uap panas dari teko mereka seperti tanda khas yang membuat orang langsung tahu ada bajigur lewat.
Orang-orang sering berhenti sebentar, ngobrol ringan, dan menikmati kehangatan sederhana yang jarang ditemui di minuman lain. Bajigur bukan cuma soal rasa, tapi juga suasana yang dibawanya.
Sering dibandingkan dengan bandrek, bajigur sebenarnya punya karakter berbeda. Kalau bandrek identik dengan jahe yang pedas dan rempah yang kuat, bajigur lebih ramah buat lidah yang kurang suka rasa pedas hangat.
Karena itu, banyak orang memilih bajigur ketika ingin minuman penghangat yang manis, creamy, dan lembut, lebih seperti comfort drink daripada minuman rempah intens.
Di keluarga Sunda, bajigur juga bukan sekadar minuman, tapi bagian kecil dari kebiasaan. Kadang dibuat saat udara dingin, saat keluarga kumpul, atau ketika ada tamu. Kehangatan bajigur seperti membawa rasa kebersamaan tersendiri.
Meskipun zaman sudah berubah, rasa minuman ini tetap tak tergeser, masih dicari, masih dinikmati, dan masih jadi cerita.
Selain enak, banyak yang percaya bahwa bajigur punya manfaat buat tubuh. Rempah seperti jahe membantu menghangatkan badan, cocok saat musim hujan atau kalau lagi merasa meriang.
Ditambah santan dan gula aren yang membuat minuman ini cukup mengenyangkan, bajigur sering jadi penyelamat saat malam-malam dingin datang tiba-tiba.
Kini, bajigur berkembang lebih modern. Ada versi instan, ada yang dikemas menarik untuk oleh-oleh, tapi banyak orang tetap balik ke versi tradisional, dengan direbus perlahan, disajikan panas, dan dinikmati sambil ngobrol santai.
Rasanya tetap klasik dan nggak tergantikan, sebuah minuman sederhana yang bertahan karena kehangatan yang selalu dicari banyak orang.
Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin