Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menjelajah Rasa Autentik Rawon Nguling, Sup Hitam Khas Jawa Timur

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 29 Agustus 2025 | 15:00 WIB

Rawon Nguling.
Rawon Nguling.

RADARBANYUWANGI.ID - Kalau lagi jalan-jalan ke Jawa Timur, terutama lewat jalur Probolinggo menuju Bromo, ada satu kuliner yang hampir selalu jadi bahan omongan yaitu Rawon Nguling.

Nama rawon ini sudah melegenda banget, bahkan sering disebut sebagai salah satu rawon terenak di Indonesia.

Kuahnya hitam pekat, dagingnya empuk, ditambah aroma bumbunya yang bikin perut langsung keroncongan.

Tak heran kalau tempat makan ini selalu rame pengunjung, mulai dari warga lokal sampai wisatawan luar kota yang penasaran sama rasanya.

Sejarah rawon sendiri masih agak misterius. Ada yang bilang kalau masakan berkuah hitam ini dulu hanya disajikan untuk kalangan raja.

Tapi seiring waktu, rawon jadi makanan rakyat yang bisa dinikmati siapa saja.

Bahkan, pada tahun 2018, Rawon Nguling resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemdikbud.

Jadi bisa dibilang, makan rawon ini bukan cuma soal kenyang, tapi juga ikut melestarikan tradisi.

Warung Rawon Nguling sudah ada sejak tahun 1942, lho. Pendiri pertamanya dikenal dengan sebutan Mbah Lik.

Awalnya warung ini bernama Depot Lumayan dengan menu utama rawon, lalu semakin terkenal dan berganti nama sesuai daerah asalnya.

Sekarang cabangnya udah ada di Surabaya, Jakarta, Malang, dan tetap jadi rumah makan legendaris di Malang sejak 1983. Jadi, meskipun jauh dari Probolinggo, kamu tetap bisa menikmati cita rasa khasnya.

Nah, yang bikin Rawon Nguling beda dari rawon lain adalah kuah hitam pekatnya yang berasal dari kluwek. Bahan ini memang jadi kunci utama rasa rawon.

Selain itu, ada bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, lengkuas, cabai, kunyit, sampai merica yang ditumis wangi sebelum dicampur dengan daging sapi rebus yang super empuk. Perpaduan bumbu ini bikin kuahnya kaya rasa dan nagih.

Kalau soal teknik, Rawon Nguling punya trik khusus. Kluwek disangrai dulu biar aromanya makin keluar, lalu bumbunya nggak pakai asam Jawa, serai, atau terasi.

Bahkan kaldu dasarnya juga nggak dari tulang, melainkan murni dari daging dan urat sapi. Hasilnya? Kuahnya lebih pekat, jernih, tapi tetap ringan di perut.

Di meja makan, biasanya tersedia lauk tambahan seperti empal manis, jerohan, tempe goreng, atau perkedel yang bisa bikin seporsi rawon makin mantap.

Saat disajikan, semangkuk rawon biasanya ditemani nasi putih hangat, tauge pendek, taburan bawang goreng, sambal, plus pilihan pelengkap seperti telur asin atau kerupuk udang.

Buat masyarakat Tengger, rawon juga sering hadir dalam acara hajatan. Jadi selain jadi santapan sehari-hari, rawon juga punya makna kebersamaan di tengah tradisi.

Dari segi rasa, Rawon Nguling punya perpaduan gurih, pedas, dan sedikit manis. Kuahnya memang agak lebih encer dibanding rawon daerah lain, tapi justru itu yang bikin segar.

Daging sapinya lembut banget, bumbunya meresap sampai ke dalam, bikin siapa pun yang nyobain pasti pengin nambah. Makanya tak heran kalau pengunjung rela antre demi bisa merasakan kelezatannya.

Menariknya, rawon ternyata sudah tercatat sejak abad ke-10 dalam Prasasti Taji pada masa Kerajaan Mataram Kuno dengan nama “rarawwan”.

Jadi bisa dibilang, ini salah satu sup tertua yang ada di Jawa. Rawon Nguling sendiri jadi penerus tradisi kuno itu dengan cita rasa modern yang tetap autentik.

Bukan cuma makanan, tapi juga bagian dari sejarah kuliner Jawa Timur yang sampai sekarang masih terus hidup.

Kalau kebetulan lewat Probolinggo atau Malang, jangan lupa mampir dan cobain sendiri Rawon Nguling.

Rasanya yang khas, daging empuk, plus kuah hitam yang nagih bakal bikin perjalananmu makin berkesan. Siap-siap aja, sekali coba pasti pengin balik lagi!


Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi

Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#rawon #Rawon Nguling #probolinggo