Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kenalan Lagi Sama Kue Cucur, Jajanan Tradisional Yang Bikin Kangen

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 22 Agustus 2025 | 00:45 WIB
Kue Cucur
Kue Cucur

RADARBANYUWANGI.ID - Kalau ngomongin jajanan tradisional, kue cucur pasti masuk daftar favorit banyak orang.

Bentuknya bulat lebar, bagian tengahnya tebal dan empuk, sementara pinggirannya tipis renyah bikin nagih. Rasa manis dari gula merah bikin kue ini punya ciri khas yang beda dari kue lain.

Tak heran kalau sampai sekarang kue cucur masih gampang ditemuin di pasar atau acara hajatan, karena selain enak juga penuh cerita budaya di baliknya.

Kalau jalan-jalan ke pasar tradisional, pasti sering nemu kue bulat dengan pinggiran tipis renyah dan tengahnya agak tebal.

Yup, itu dia kue cucur. Jajanan manis ini udah ada sejak lama banget, bahkan sempat disebut dalam Serat Centini pada abad ke-18.

Bayangin, dari zaman dulu orang-orang udah ngemil cucur, tandanya emang udah jadi bagian dari budaya kuliner kita.

Nama “cucur” sendiri lucu juga asalnya. Dari bahasa Jawa yang berarti “pancuran” atau “kucuran”. Pas banget sih, soalnya cara bikinnya memang adonan dituang alias dicucurkan langsung ke minyak panas. Jadi namanya nggak asal, tapi nyambung sama teknik masaknya.

Soal bentuk, cucur ini khas banget. Tengahnya tebal lembut, pinggirannya tipis renyah, jadi ada kontras tekstur yang bikin nagih.

Warna kecokelatan datang dari gula merah atau gula aren yang jadi bahan utama, dipadu tepung beras. Simpel, tapi rasanya manis legit yang nggak pernah gagal bikin kangen.

Nggak cuma di Jakarta atau Betawi, kue cucur punya banyak nama di daerah lain. Di Sumatra Barat dikenal dengan sebutan pinyaram, di Madura bilangnya kocor, di Kalimantan ada wadai cucur, dan di Sulawesi Barat disebut dumpi.

Bahkan di luar negeri ada juga versi miripnya, Malaysia dan Brunei dengan kuih cucur, Thailand punya khanom fak bua, sampai India pun ada kue sejenis.

Uniknya lagi, cucur bukan sekadar jajanan pasar. Di beberapa daerah, kue ini sering hadir di acara adat seperti pernikahan, syukuran, atau potong rambut bayi.

Ada makna simbolis di baliknya, yaitu harapan baik dan keberkahan. Jadi tiap gigitan cucur, ibarat makan doa yang tulus dari si empunya hajat.

Ada juga cerita legenda soal asal-usul kue cucur. Katanya, dulu di Banten ada seorang janda bernama Mak Ranti.

Karena pengen cucunya kenyang tapi cuma punya bahan seadanya, ia bikin kue dari tepung beras, gula merah, dan minyak.

Eh, ternyata kue itu mengembang cantik dan rasanya enak. Dari situlah orang percaya cucur jadi lambang rezeki dan berkah.

Kalau soal bikin, caranya nggak terlalu ribet. Gula merah biasanya direbus dulu sama air, pandan, plus sedikit garam.

Setelah itu dicampur dengan tepung beras dan sedikit terigu. Adonannya harus diistirahatkan biar bisa bersarang bagus.

Waktu digoreng, pakainya minyak sedikit aja dengan api kecil. Hasilnya, cucur mengembang dengan pinggiran yang tipis renyah.

Meski sekarang banyak camilan modern bermunculan, kue cucur tetap punya tempat spesial di hati banyak orang.

Kesederhanaannya justru jadi daya tarik, bahannya gampang dicari, bikinnya sederhana, rasanya otentik, dan penuh cerita budaya.

Jadi wajar kalau sampai sekarang, cucur masih setia hadir di meja, baik sebagai jajanan pasar maupun suguhan di acara keluarga.

Jadi intinya, kue cucur itu bukan sekadar jajanan pasar biasa. Dari bentuknya yang khas, rasanya yang manis legit, sampai cerita-cerita budaya di baliknya, semuanya bikin cucur selalu punya tempat spesial.

Mau dimakan pas lagi nongkrong sore, atau jadi suguhan di acara keluarga, kue ini tetap bikin suasana hangat dan nggak pernah ngebosenin.

 


Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi

Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News

Editor : Ali Sodiqin
#jajanan tradisional #kucur #kue cucur