RADARBANYUWANGI.ID - Tradisi Rebo Wekasan adalah momen yang jatuh di hari Rabu terakhir bulan Safar (atau Sapar) dalam penanggalan Jawa.
Meski terdengar sederhana, tradisi ini punya makna yang dalam dan masih dijaga di berbagai daerah di Jawa.
Tujuannya yaitu Untuk tolak bala, alias memohon perlindungan agar terhindar dari musibah dan bencana.
Biasanya acaranya dimulai dengan shalat sunnah, dilanjutkan doa bersama, dzikir, tahlilan, sampai selamatan warga.
Selain jadi momen spiritual, Rebo Wekasan juga jadi ajang kumpul dan mempererat silaturahmi antarwarga.
Selain itu, Rebo Wekasan juga memiliki makanan yang punya peran penting.
Bukan cuma untuk disantap, tapi juga sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan doa yang dipanjatkan bareng-bareng.
Nah, berikut beberapa hidangan khas yang biasanya hadir di meja selamatan warga.
1. Jenang Sapar: adalah bubur sumsum yang dibuat dari campuran tepung beras, dilengkapi bola-bola ketan kenyal, lalu disiram kuah santan gurih.
Di beberapa tempat, bubur ini juga dikenal dengan sebutan jenang grendul.
Rasanya manis legit, pas disantap rame-rame sambil ngobrol santai.
Jenang Sapar sendiri mempunyai makna yang melambangkan keselamatan dan tolak bala.
2. Kue Apem: kue lembut yang terbuat dari tepung beras, tepung singkong, ragi, dan air kelapa. Biasanya disajikan dengan kuah gula merah (kinca).
Punya makna yaitu sebagai wujud rasa syukur dan saling berbagi, permohonan ampun kepada Allah sekaligus harapan agar dosa-dosa diampuni dan hidup diberi keselamatan.
3. Lemper: juga menjadi sajian pelengkapnya. Ketan yang berisi ayam atau tape ini dibungkus daun pisang dan punya makna hati yang lurus serta niat yang tulus.
Di Yogyakarta bahkan ada tradisi unik kirab lemper raksasa yang dipercaya bisa menangkal marabahaya.
Selain itu, Lemper juga menjadi simbol erat persaudaraan antarwarga, dan perlindungan dari marabahaya.
4. Ketupat: selain enak dimakan, ketupat bukan sekadar lauk makan, tetapi bagian dari beberapa sedekah yang dibawa ke acara selamatan Rebo Wekasan.
Biasanya ketupat disajikan bersama lauk lain seperti opor ayam, sayur labu, atau sambal goreng, dan yang lainnya. Ketupat sendiri punya simbol kebersamaan dan perlindungan dari bencana.
5. Nasi Tumpeng: tentu saja menjadi hidangan utama, bentuk kerucut tumpeng diartikan sebagai simbol hubungan manusia dengan Tuhan, puncaknya menunjukkan ke atas sebagai lambang doa yang dipanjatkan.
Tumpeng biasanya jadi pusat perhatian sebelum acara makan bersama dimulai.
Di tradisi Rebo Wekasan, makanan yang disajikan bukan sekadar buat mengisi perut. Setiap hidangan punya makna tersendiri dan jadi bagian penting dari rangkaian acara.
Lewat makanan, warga mengekspresikan rasa syukur, mempererat hubungan sosial, dan bersama-sama memohon perlindungan dari segala marabahaya.
Menariknya, tiap daerah punya menu khas yang berbeda-beda, tapi semuanya membawa pesan spiritual yang kuat.
Ada yang melambangkan doa keselamatan, ada yang jadi simbol persaudaraan, bahkan ada yang dipercaya mampu tolak bala.
Jadi, saat acara selamatan berlangsung, makanan-makanan ini bukan cuma jadi suguhan, tapi juga sarana untuk mengikat makna, tradisi, dan kebersamaan warga.
Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin