RADARBANYUWANGI.ID - Kuliner khas Banyuwangi seperti sego tempong, sego cawuk, hingga rujak soto perlahan mulai kehilangan popularitas, terutama di kalangan generasi muda.
Makanan tradisional ini seolah terpinggirkan oleh tren kuliner kekinian bergaya luar negeri seperti burger, pizza, roti panggang, serta aneka minuman manis semacam boba atau milkshake.
Pergeseran selera ini menimbulkan kekhawatiran akan keberlangsungan identitas cita rasa lokal di tengah maraknya budaya makan global.
Fenomena ini tidak terlepas dari perubahan pola hidup Gen Z yang lebih banyak terpapar konten kuliner melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Makanan dengan tampilan menarik dan praktis dibawa seringkali lebih diminati, baik dari sisi estetika maupun kemudahan saat dikonsumsi.
Tak jarang, para pelajar dan mahasiswa di Banyuwangi memilih makanan berdasarkan “nilai visual” agar bisa dijadikan konten, dibanding mempertimbangkan nilai budaya atau cita rasa otentik daerahnya sendiri.
Data GoodStats pada 2024 mencatat, sebanyak 49 persen Gen Z di Indonesia memanfaatkan layanan quick commerce untuk membeli makanan, dengan 25 persen di antaranya terbiasa memesan secara daring.
Sementara itu, laporan lain menyebutkan 43 persen Gen Z lebih memilih camilan populer seperti martabak, dan 41 persen menggemari jajanan seperti seblak atau cilok.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa kuliner lokal di berbagai daerah, termasuk Banyuwangi, mulai terdesak dari daftar pilihan utama.
Di Banyuwangi, perubahan selera anak muda tampak jelas di lingkungan sekitar. Warung-warung tradisional yang dulu ramai oleh pelajar kini lebih banyak dikunjungi pelanggan dewasa.
Sebaliknya, anak-anak muda lebih sering terlihat nongkrong di kafe modern atau memesan hidangan kekinian lewat aplikasi.
Menu seperti burger dan pizza menjadi favorit, sedangkan sego tempong perlahan tergeser dari daftar santapan harian.
Menariknya, data Katadata 2023 memperlihatkan bahwa sebenarnya 44 persen Gen Z secara umum masih menggemari masakan Nusantara.
Namun, kondisi ini tidak serta-merta terjadi merata di setiap daerah.
Di Banyuwangi, makanan lokal kurang mendapat perhatian karena kalah dalam hal kemasan, tampilan, hingga pemasaran digital.
Tren ini juga diperkuat pola konsumsi setelah pandemi, ketika Gen Z terbiasa memesan makanan secara online dan cenderung mencari menu yang praktis sekaligus sesuai tren.
Di sisi lain, sego tempong sering dianggap ribet, kurang praktis, dan tidak cukup Instagramable.
Padahal, jika dilihat dari segi gizi maupun nilai budaya, hidangan tradisional punya keunggulan yang tidak dimiliki makanan cepat saji.
Meski demikian, sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta rumah makan tradisional mulai berinovasi dengan cara menyajikan kuliner khas dalam kemasan yang lebih modern.
Contohnya di Osing Deles, sego tempong kini dikemas dalam box take-away yang praktis dan menarik, sehingga memudahkan pelanggan untuk menikmatinya di tempat maupun dibawa pulang.
Langkah-langkah semacam ini menjadi strategi penting untuk menarik minat generasi muda kembali ke kuliner tradisional Banyuwangi.
Melestarikan kuliner khas Banyuwangi bukan semata tanggung jawab orang tua atau pemerintah, melainkan juga tugas generasi muda.
Jika tidak diperkenalkan dan dikembangkan sejak dini, dikhawatirkan ragam hidangan khas ini hanya akan tinggal cerita, bukan lagi hadir di meja makan.
Sudah saatnya Gen Z tak hanya bangga dengan tren global, tetapi juga mulai mencintai kembali rasa-rasa otentik dari daerah sendiri.
Penulis: Devi Fathihatul Asliha | magang program jurnalistik Radar Banyuwangi
Editor : Agung Sedana