RADARBANYUWANGI.ID - Kuliner malam yang menyajikan menu mie goreng dan nasi goreng di pinggir jalan, rasanya tak kalah dengan yang disajikan di gerai-gerai modern.
Salah satunya mie goreng yang dijual oleh Khosim di pinggir Jalan A. Yani, sebelah barat McDonald's
Khosim membuka lapaknya mulai pukul 23.30 sampai menjelang subuh. Rasanya yang khas memikat para pelanggan. Belasan pembeli harus rela antre untuk mendapatkan mie dan nasi goreng racikan Khosim.
"Yang penting rasa dan ketulusan, nantinya rejeki tidak bakalan tertukar walupun berdiri tempat makanan yang bebih besar dari grobaknya," ujar Khosim sambil bercanda.
Pria yang tinggal di Kelurahan Karangrejo itu mengaku sudah enam tahun jualan mie goreng dan nasi goreng. Sehari-hari dia jualan menggunakan gerobak.
Saat Jawa Pos Radar Banyuwangi berkunjung ke gerobak sederhana Khosim pukul 01.00 WIB Selasa dini hari (3/6), Khosim sibuk menumis mie goreng untuk enam porsi sekaligus.
Di depannya, antrean panjang belasan orang tampak sabar menanti giliran dilayani. Pembelinya beragam, ada yang naik motor dan mobil.
Yang menarik, meski harus bersaing langsung dengan restoran cepat saji yang buka 24 jam, Khosim tak pernah kehilangan pelanggan setia.
Pria berusdia 55 tahun itu tetap percaya diri berjualan tanpa sedikit pun gentar oleh nama besar waralaba cepak saji di depan gerobaknya.
Dalam satu malam, Khosim menyiapkan 15 kilogram (kg) bahan, terdiri dari 7 kg nasi dan 8 kg mie dengan harga Rp 12.000 setiap porsinya.
Semua nyaris selalu habis terjual. Omzet kotor semalam antara Rp 800.000 hingga Rp 900.000. Saat malam minggu, ia sengaja menambah stok bahan jualan nasi dan mie goring menjadi 20 kg untuk masing-masing menu.
"Kalau malam Minggu omzetnya bisa tembus Rp 1 juta. Capek iya, tapi saya nikmati kalau ada uangnya," kata Khosim sambal tertawa lepas.
Hebatnya lagi, ia mengelola semua ini sendirian. Tanpa pegawai, tanpa bantuan. Khosim merangkap sebagai koki, kasir, sekaligus pelayan.
Semua dilakukan dengan kecepatan serta ketelatenan disambi dengan melontarkan candaan kepada para pembeli.
Wahyu, salah satu pelanggan setia, mengaku bisa tiga kali seminggu mampir ke gerobak Khosim untuk membeli nasi maupun mie goreng yang menurutnya rasanya berbeda dengan nasi dan mie goring yang lain.
“Saya kadang beli sampai 4 porsi sekali jalan. Orang tua di rumah juga selalu nitip kalo tahu saya mau beli ke Pak Khosim,” ucapnya. (cw6/aif)
Editor : Lugas Rumpakaadi