Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Persiapan Tumpeng Sewu, Warga Kemiren Ramai-Ramai Bakar Ayam Kampung

Ali Sodiqin • Kamis, 29 Mei 2025 | 16:22 WIB
Warga Kemiren membakar ayam kampung sebelum diolah menjadi pecel pitik.
Warga Kemiren membakar ayam kampung sebelum diolah menjadi pecel pitik.

RADARBANYUWANGI.ID – Kamis malam nanti (29/5), jalan-jalan Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi dipastikan bakal berubah menjadi pesta rakyat.

Ribuan tumpeng akan disajikan secara berjajar, lengkap dengan pecel pitik—ayam kampung bakar khas Suku Oseng.

Inilah Festival Tumpeng Sewu, tradisi tahunan warga Kemiren yang tak sekadar suguhkan makanan, tapi juga menjadi “etalase” keramahan khas Oseng.

Sejak pagi, aroma ayam bakar sudah tercium dari dapur-dapur warga. Asap mengepul dari tungku kayu, ayam kampung dijajarkan di atas bara api, dan kelapa parut dibumbui rempah-rempah tradisional. Semua demi satu tujuan: menyajikan tumpeng terbaik.

Yang tak kalah menarik, ada satu sosok yang jadi sorotan tiap kali festival ini digelar: Abdul Karim.

Pria 52 tahun ini bukan chef biasa. Ia adalah “senjata rahasia” di balik nikmatnya ayam ingkung yang tersaji di ribuan tumpeng.

“Setiap Tumpeng Sewu, saya yang ditugasi bakar ayamnya. Tahun ini saya siapkan 250 ekor ayam. Semalam suntuk,” ujar Karim sambil tersenyum di sela kepulan asap dapurnya.

Dengan api dari tungku kayu dan teknik membakar tradisional, Karim memastikan ayam-ayam matang sempurna.

Tak ada yang gosong, tak ada yang mentah. Semua pas. Ayam-ayam itu disusun rapi agar bisa matang merata.

Sementara itu, di sudut dapur yang lain, ibu-ibu sibuk menyiapkan nasi kuning, menghias tumpeng, dan meracik lauk-pauk. Anak-anak muda juga ikut membantu. Semua warga terlibat. Sak desa guyub.

“Tumpeng ini simbol syukur dan kebersamaan. Semua orang punya peran,” lanjut Karim, yang wajahnya terlihat puas melihat hasil kerja kolektif warganya.

Malam nanti, tumpeng-tumpeng ini akan disantap bersama-sama. Tidak hanya oleh warga, tapi juga wisatawan yang datang.

Mereka duduk di tikar, di sepanjang gang dan jalan desa. Semua larut dalam suasana hangat dan akrab.

“Festival Tumpeng Sewu bukan sekadar acara makan-makan. Ini adalah cara kami melestarikan tradisi dan mempererat persaudaraan,” tegas Karim.

Tumpeng Sewu menunjukkan bahwa di Kemiren, tradisi bukan barang museum. Ia hidup, dijaga bersama, dan dirayakan dalam semangat gotong royong.

Dan bagi Abdul Karim, melihat warga menikmati ayam bakarnya—itu lebih dari cukup.

“Ini bukan cuma soal masak ayam. Ini soal merawat warisan dan rasa kebersamaan,” pungkasnya, sambil membalik ayam bakar. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#tumpeng sewu #Kemiren Banyuwangi