RadarBanyuwangi.id - Jejak sejarah kue jahe dapat ditelusuri hingga sekitar 2400 tahun sebelum Masehi di Yunani dan Mesir Kuno.
Pada masa itu, kue jahe digunakan dalam berbagai upacara keagamaan dan ritual sebagai simbol keberuntungan dan berkah.
Pada abad ke-11, tentara Salib membawa rempah-rempah dari Timur Tengah ke Eropa, termasuk jahe.
Rempah ini kemudian digunakan dalam pembuatan kue jahe yang semakin populer di kalangan bangsawan Eropa.
Kue Jahe di Inggris dan Jerman
Pada abad ke-16, Ratu Elizabeth I dari Inggris meminta pembuat roti istana untuk membuat kue jahe berbentuk manusia. Kue-kue ini dihias dengan indah dan diberikan kepada tamu istana sebagai tanda penghormatan.
Di Jerman, khususnya di kota Nuremberg, kue jahe dikenal dengan nama Lebkuchen. Pada abad ke-13, para pendeta dari Franconia membawa Lebkuchen ke Nuremberg untuk disajikan pada perayaan Natal.
Kue Jahe sebagai Sajian Natal
Seiring berjalannya waktu, kue jahe semakin identik dengan perayaan Natal. Pada abad ke-16, masyarakat Jerman mulai memanggang kue jahe berbentuk rumah lengkap dengan cerobong asap dan salju putih, terinspirasi dari dongeng "Hansel dan Gretel".
Di Inggris, kue jahe berbentuk manusia dihias dengan icing dan diberikan kepada tamu sebagai hadiah Natal.
Tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai negara dan menjadi bagian penting dari perayaan Natal di seluruh dunia. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi