RadarBanyuwangi.id - Kue Bangkit Jahe merupakan salah satu camilan tradisional Indonesia yang memiliki cita rasa khas dan kaya akan nilai sejarah.
Kue ini dikenal dengan teksturnya yang renyah dan aroma jahe yang menggugah selera. Namun, tahukah Anda bahwa kue ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan budaya Melayu dan perkembangan perdagangan rempah di Nusantara.
Kue Bangkit, yang juga dikenal dengan nama Bangket, merupakan kue tradisional khas Melayu, khususnya dari daerah Riau dan Sumatera.
Sejarah mencatat bahwa pada masa Sultan Mahmud Riayat Syah (1761–1812), sagu dijadikan sebagai komoditas perdagangan yang menguntungkan di Lingga.
Untuk mempererat hubungan dengan pihak Belanda, Sultan Mahmud mengirimkan 800 kantong sagu kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, P.G. van Overstraten, di Batavia.
Masyarakat di Pulau Lingga pun mulai menanam pohon sagu secara luas, dan ibu-ibu rumah tangga memanfaatkan sagu untuk membuat kue kering, salah satunya adalah Kue Bangkit.
Seiring berjalannya waktu, Kue Bangkit mengalami variasi rasa, salah satunya adalah penambahan jahe sebagai bahan utama.
Jahe, yang dikenal sebagai rempah dengan berbagai manfaat kesehatan, memberikan sentuhan pedas yang khas pada kue ini.
Kue Bangkit Jahe tidak hanya menjadi camilan favorit saat hari raya, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi kuliner Indonesia.
Pembuatan Kue Bangkit Jahe dimulai dengan mencampurkan tepung sagu, gula merah, dan sedikit garam.
Kemudian, adonan tersebut dicetak menggunakan cetakan khas yang memberikan bentuk bunga atau motif tradisional lainnya.
Setelah dicetak, kue dipanggang hingga matang dan menghasilkan tekstur yang renyah serta aroma jahe yang menggugah selera. Kue ini sering disajikan saat Lebaran atau sebagai oleh-oleh khas dari daerah asalnya. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi