RadarBanyuwangi.id - Ting-ting jahe, camilan tradisional Indonesia yang menggabungkan rasa manis dan pedas dari jahe, memiliki sejarah panjang yang berakar dari budaya Tionghoa dan berkembang di Pasuruan, Jawa Timur.
Dikenal karena khasiatnya yang menghangatkan tubuh, ting-ting jahe telah menjadi bagian dari warisan kuliner Nusantara.
Sejarah ting-ting jahe berawal dari tahun 1935, ketika seorang imigran Tionghoa bernama Njoo Thay Kwee merintis usaha kembang gula di Pasuruan.
Dengan menggunakan sepeda pancal, Njoo menjajakan permen buatannya yang terbuat dari campuran gula, tepung kanji, dan air jahe. Usaha ini kemudian berkembang menjadi Pabrik Kembang Gula Sin A, yang dikenal luas dengan produk ting-ting jahe-nya.
Permen jahe ini tidak hanya populer di dalam negeri. Pada tahun 1778, catatan sejarah menunjukkan bahwa candied ginger dari Batavia diekspor ke Eropa, mencapai 10.000 pon per tahun. Permen ini digemari karena khasiatnya dalam menghangatkan tubuh dan meredakan kembung.
Pada era modern, PT Sindu Amritha, penerus Pabrik Sin A, berhasil mengekspor ting-ting jahe ke berbagai negara, termasuk Belanda, Hong Kong, Australia, Timur Tengah, dan Amerika Serikat. Pada tahun 1985, perusahaan ini menerima penghargaan “International Commerce Award” di Madrid, Spanyol.
Ting-ting jahe dibuat dengan cara tradisional. Jahe segar diparut dan dicampur dengan gula pasir, kemudian dimasak hingga mengental.
Adonan ini kemudian dipotong kecil-kecil dan dibungkus satu per satu secara manual. Proses ini menjaga cita rasa autentik dan kualitas permen.
Ting-ting jahe bukan sekadar permen, ia adalah bagian dari warisan budaya kuliner Indonesia. Dengan rasa yang khas dan sejarah yang kaya, permen ini terus dinikmati oleh berbagai generasi, baik di dalam maupun luar negeri. (*)
Editor : Ali Sodiqin