Apalagi ditambah dengan lontong dan siraman saus, cabai, dan kecap. Rasa bakso semakin terasa ejong alias enak tenan.
Hal inilah yang dirasakan Afia. Sejak ibunya menyajikan bakso mulai tahun 1984, sampai sekarang tetap meneruskan tradisi terun temurun keluarganya tersebut.
Menurutnya menyajikan bakso selain bisa menjadi menu alternatif saat lebaran. Bakso lebih mudah disajikan dan tidak seribet seperti sajian opor dan kare.
Dulunya pun ibunya mempersiapkan menu bakso ini tidak memerlukan waktu yang lama. Proses pembelian daging, selep, hingga pembentukan pentol dilakukan tidak sampai sehari.
Namun ada efek samping yang dirasakan oleh ibunya kala menyajikan menu bakso rutin saat lebaran tiba. Salah satunya bersenggolan dengan tukang bakso yang biasa mangkal atau lewat depan rumah.
Dagangan baksonya jadi minim pembeli. Imbasnya ibunya sempat merasakan disatru alias dimusuhi oleh pedagang bakso kala itu.
“Sempet dimusuhi pedagang bakso dengan misuh-misuh. Dianggap ngerebut pelanggannya. Padahal sajian bakso di rumah pas lebaran nggak dijual,” ujarnya. BERSAMBUNG
Editor : Niklaas Andries