Radarbanyuwangi.id – Modal nekat rupanya membawa hasil manis. Selepas berburu daging sapi dan menyelep daging di pasar.
Adonan bakso yang diinginkan akhirnya bisa diperoleh. Sepulang dari pasar, adonan itu pun mulai dicetak menggunakan tangan. Tak terasa 2 kg adonan berhasil diselesaikan kurang dari 1,5 jam.
Bakso itu kemudian disimpan dalam lemari es untuk kemudian disajikan saat lebaran tiba. Saat lebaran tiba, menu bakso itu pun mulai disajikan.
Selain menu mainstream seperti opor ayam dan kare. Bakso menjadi menu pendamping di meja makan.
“Menu bakso ini kemudian rutin disajikan ibu setiap lebaran,” ujar Afia.
Tak dinyana di lebaran berikutnya makin banyak tetangga yang mulai meleleh. Mereka pun mulai berani mencicipi menu bakso buatan ibunya.
Dari sinilah menu bakso ini menjadi sajian favorit keluarganya. Kali ini tidak hanya disajikan untuk keluarga. Tetapi tetangga yang bertamu pun bisa menjajal menu bakso di rumah.
Setelah lima tahun membuat bakso saat lebaran. Afia menceritakan porsi bakso yang disajikan semakin besar kapasitasnya.
Hal ini disebabkan banyak tetangga bahkan masyarakat di lingkungan rumahnya yang menantikan sajian bakso ibunya.
Dari yang hanya 2 kg saja, tahun 1989 menjadi puncak sajian bakso yang pernah disajikan kepada tetangga saat lebaran.
“Ibu pernah bikin sampai 25 kg saat itu. Jumlah yang cukup banyak untuk makan bersama satu kampung,” kenangnya. BERSAMBUNG
Editor : Niklaas Andries