Radarbanyuwangi.id – Mungkin hampir semua orang sepakat bila bakso dinobatkan sebagai makanan sejuta umat.
Menu makanan yang satu ini hampir digandrungi oleh semua orang dan semua kalangan usia.
Kepopuleran bakso pun bisa ditemukan dengan menjamurnya pedagang bakso di hampir setiap penjuru kota maupun desa. Bahkan tidak sedikit yang menjajakan bakso dengan cara berkeliling.
Baik dengan menggunakan gerobak maupun sepeda motor. Bakso menjadi menu yang cukup familiar dalam daftar santapan masyarakat Indonesia.
Bakso sendiri dibuat dari campuran daging dan tepung tapioka yang dibentuk menjadi bulatan bola kecil.
Banyak yang menyakini bila bakso merupakan perpaduan cita rasa kuliner Tionghoa dan Indonesia.
Dimana menurut bahasa Tionghoa Hokkian, bakso bisa diartikan sebagai daging giling.
Hal ini tentu saja cukup beralasan mengingat proses pembuatan bakso dimulai dengan menggiling dagingnya terlebih dahulu.
Dan siapa sangka bila bakso sendiri kini cukup populer sebagai sajian khas hari raya Idul Fitri. Hampir semua rumah bisa ditemui menu makanan biasa disajikan dengan kuah ini.
Kehadirannya seolah mampu mematahkan tradisi menu mainstream seperti opor ayam hingga kare dalam sajian lebaran.
Namun mulai kapan sajian menu bakso menjadi sajian menu lebaran seperti saat ini.
Jawabannya tidak pernah ada yang tahu kapan. Namun sebuah keluarga di Banyuwangi ternyata sudah menyajikan menu bakso sebagai sajian Idul Fitri ini sejak tahun 1984.
Bakso yang dibuat awalnya untuk melengkapi sajian menu saat lebaran tiba.
“Tidak banyak awalnya membuatnya sekitar 2 kg saja. Ibu saya bikin bakso itu hanya untuk menu pelengkap lebaran bagi keluarga saja,” ujar Afia warga Sukowidi. BERSAMBUNG
Editor : Niklaas Andries