Secara sekilas, sajian menu ini memang mirip dengan sayur asem. Bedanya, ayam kesrut menggunakan daging ayam kampung yang dipadu dengan kuas pedas.
Nama kesrut sendiri diyakini diambil dari cara makannya yang diseruput atau istilahnya kesrut. Sedangkan nama uyah asem yang diberikan sebagian orang. Nama ini diambil dari rasanya yang asin dan segar asam serta bumbu yang digunakan.
Dalam pembuatannya, ayam kesrut menggunakan bumbu utama yang sangat sederhana. Bumbunya hanya terdiri dari cabai rawit, cabai merah besar, blimbing wuluh atau asem wadung, bawang merah, daun bawang, terasi, gula dan garam.
Meski komposisi bumbunya terbilang sederhana, lihat saja bagaimana cita rasa yang dihasilkan. Perpaduan rasa gurih, asam, manis, dan pedas membuat daging ayam nampol di lidah. Apalagi kuah beningnya, semakin maknyus rasanya.
Konon menu kuliner ini mulai populer digandrungi masyarakat mulai era 1950-an. Namun awalnya, menu ini lahir dari penderitaan masyarakat saat penjajahan di era Jepang. Saat itu, masyarakat sangat sulit mencari bahan makanan.
Bahan makanan maupun bumbu yang ada begitu berharga digunakan untuk sekadar mengisi perut. Maka tidak heran pada awal kemunculan sajian ayam kesrut lebih banyak menggunakan bagian tulangan ayam seperti ceker, sayap dan bagian punggung.
Hingga kemudian di zaman awal kemerdekaan hingga kini sajian ayam kesrut tampil lebih berkembang dengan adanya isian daging ayam di dalamnya. Dan kini, ketenaran ayam kesrut mulai merambah banyak warung dan resto di Banyuwangi.
Bahkan hotel berbintang juga menyajikan menu ini sebagai menu andalan bagi tamu yang menginap. Bahkan untuk memopulerkan menu ayam kesrut, sajian ini menjadi ikon utama Festival Kuliner 2018 silam. Cara masaknya yang sederhana ditambah komposisi bumbu yang simpel, membuat masakan ini juga cocok sebagai menu pilihan di rumah. (nic/bay)
Editor : Niklaas Andries