Menu geseng entok ini diketahui merupakan kuliner langka sekaligus khas dari Kecamatan Singojuruh, persisnya dari Desa Singolatren. Geseng Entok awalnya muncul dari rangkaian upacara keagamaan masyarakat seperti Idul Fitri, Idul Adha, maupun perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Di luar momen itu, masakan ini menghilang. Bahkan saat itu keberadaan makanan ini masih belum dijualbelikan secara bebas. Artinya masakan ini hadir temporer saja. Namun seiring perkembangan waktu, mereka yang pernah menikmati masakan ini pun seolah ingin bisa bersantap kapan saja.
Hal ini membuat Geseng Entok mulai mendapat nilai jualnya dalam beberapa waktu belakangan. Berbeda dari masakan umumnya, resep Geseng Entok yang diperoleh secara turun temurun ini tidak mengunakan bumbu seperti bawang-bawangan seperti bawang merah atau putih. Masakan ini memiliki komposisi bumbu dan bahan yang sangat sederhana.
Pembuatannya selain unggas Entok sebagai bahan utamanya. Bumbu pelengkap cukup menggunakan cabai rawit, cabai besar, kunyit, kemiri, terasi, gula, dan garam. Dan, cita rasa masakan ini sangat ditentukan dengan kehadiran pupus Daun Wadung sebagai penghasil rasa masamnya.
Daun waru berbentuk dan bertekstur seperti daun melinjo. Rasanya masam untuk yang muda, yang tua terasa terasa pahit. Selain sebagai penentu rasa, daun ini juga bisa menjadi pelenyap bau anyir yang biasa terdapat pada daging Entok atau bebek.
Cara membuatnya cukup sederhana. Pertama semua bahan bumbu dihaluskan. Potong kecil-kecil daun wadung. Kemudian sangrai semua bahan tadi hingga beberapa menit bersama daging entok. Kemudian masukkan air, dan ukep lebih kurang setengah jam.
Pastikan proses ini sampai mendapatkan daging benar-benar dalam kondisi empuk. Setelat itu Geseng Entok siao disajikan. Agar lebih nikmat, Geseng Entok cocok dinikmati dengan nasi hangat dan sambal. Dijamin yang mencobanya bakal nambah lagi sampai semua bagian tak tersisa lagi. (nic/bay)
Editor : Niklaas Andries