Tekstur bakso yang kenyal dari olahan daging giling diracik beersama kuah kaldu membuatnya begitu digemari. Dinikmati saat hangat, terutama saat cuaca sedang dingin ataukah hujan semakin menambah cita rasa makanan yang satu ini.
Bahkan tidak sedikit, masyarakat yang kemudian menjadikannya sebagai menu tambahan sebagai ketupat dan opor ayam dalam suguhan saat perayaan lebaran. Bakso begitu menjadi tren dan familiar sebagai menu dalam menyambut hari raya Idul Fitri.
Tapi tahukah, bila bakso ini sebenarnya bukan makanan asli nusantara. Konon sajian berbahan olahan daging giling ini sudah ada sejak abad 17 saar Dinasti Ming berkuasa di Tiongkok.
Boleh jadi dalam perkembangan selanjutnya, menu makanan ini dibawa oleh imigran atau pedagang asal Tiongkok yang berniaga ke nusantara.
Label nama bakso sendiri berasal dari bahasa Hokkien. Dalam pengertiannya memiliki arti daging babi giling. Kehadirannya di nusantara pun akhirnya disesuaikan dengan kultur masyarakat yang ada.
Bahan baku utama berupa daging babi diganti menjadi daging sapi. Bahkan secara bentuk dan komposisi saja, bakso di nusantara telah mengalami sedikit penyesuaian dari pakem aslinya di Tiongkok.
Bakso di nusantara disajikan sebagai menu utama dengan campuran kuah kaldu. Di tempat asalnya, bakso disajikan tanpa kuah. bakso disajikan sebagai lauk dari menu makanan lainnya seperti mi atau nasi dan lainnya.
Bahkan dari tekstur saja, bakso di nusantara berbeda dari Tiongkok. Bakso disini lebih kenyal dan gurih. Bahkan dalam perkembangan kekinian, bakso lebih banyak menemukan bentuk variasinya seperti bakso tangkar, bakso keju, bakso beranak, bakso mercon, bakso iga, dan lainnya.
Bahkan dalam beberapa cerita, disebutkan bahwa lahirnya bakso di negeri tirai bambu ini buah dari bentuk baksi anak kepada orang tuanya. Adalah pemuda bernama Meng Bo yang hanya hidup berdua dengan ibunya yang sudah renta.
Hidup di sebuah daerah bernama Fuzhou, dikisahkan ibu dari Meng Bo sangat menyukai daging sebagai menu makannya. Faktor usia membuatnya kesulitan untuk menikmati daging favoritnya.
Disinilah Meng Bo kemudian menemukan cara agar ibunya tetap bisa menikmati daging kesukaanya. Berawal dari inpisrasi sebuah kue lembut dan kenyal, mochi, dia kemudian membuat daging untuk ibunya menjadi lebih lembut.
Meng Bo menumbuk daging dan membentuknya menjadi bulatan bulatan kecil. Dia juga menyertakan bulatan daging itu bersama kuah kaldu untuk disantap oleh ibunya.
Dari sinilah kemudian resep bakso ala Meng Bo kemudian menyebar. Hingga akhirnya turun temurun dan mampu bertransformasi bentuk dan cita rasanya sesuai dengan tempat yang disinggahi oleh resep yang diwariskan oleh Meng Bo. (*)
Editor : Niklaas Andries