RadarBanyuwangi.id - Sepanjang tepi jalan poros di Banyuwangi, pada zaman dulu selalu ditanami pohon asam Jawa (asem).
Tak heran, bila buah asam Jawa tersebut sangat populer dijadikan sebagai manisan yang menyehatkan.
Pohon asem awalnya mungkin ditanam di tepi jalan sebagai tanaman pelindung dan peneduh pengguna jalan.
Dengan kayu yang sangat kuat, tanaman ini juga sekaligus berfungsi sebagai pagar alami apabila ada kendaraan yang keluar jalur.
Manfaat lainnya, tanaman asam juga bisa berfungsi sebagai penekan polusi akibat pembuangan gas kendaraan bermotor.
Pohon asam mampu tubuh subur di daerah tropis. Pohon asam juga menghasilkan polong seperti kacang yang mengandung biji dan daging yang berserat.
Inilah yang kemudian membuat buah dari pohon ini juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Paling umum, buah asam sering digunakan sebagai penyedap rasa atau bumbu dalam berbagai bentuk variasi makanan.
Saat dimasak, asam Jawa ini dapat menghasilkan rasa asam manis yang sangat khas.
Dan di tangan orang Banyuwangi, buah asam yang berasa sangat masam itu, bisa menjadi sajian menu yang menggiurkan.
Makanan ini sering disebut dengan manisan asam atau asem. Manisan asem biasanya disajikan lengkap dengan gagang tangkai buahnya.
Sebelum dimasukkan toples, asam dikupas dari kulitnya. Lalu dijemur beberapa jam. Usai dijemur, asam kemudian dilumuri dengan gula pasir sampai menempel dan merata di semua bagiannya.
Setelah itu selesai dah. Manisan asam siap disajikan saat lebaran. Nah, simpel kan cara buatnya.
Di balik rasa yang khas itu, makanan ini ternyata juga kaya manfaat secara medis. Asam kaya akan antioksidan yang baik bagi tubuh.
Selain itu, di dalamnya juga terkandung manfaat sebagai penolak kanker, antimikroba, melindungi hati, dan cocok bagi penderita diabetes. (nic/bay)
Editor : Salis Ali Muhyidin