Salah satu yang tidak boleh terlupakan saat Lebaran adalah suguhan bagi tamu dan saudara. Suguhan sudah menjadi salah satu budaya untuk menyambut saudara dan tamu yang dating bersilaturahmi saat hari kemenangan tiba.
Suguhan yang umum ada saat Lebaran adalah berbagai jenis kue dan makanan ringan. Tak jarang pula beberapa orang juga menyuguhkan beragam jajanan tradisional yang mungkin sudah asing bagi kebanyakan generasi muda.
Kue bungkuk, manisan kelapa, madumongso, manisan pala, manisan cermai, lepet, hingga manisan asem dulunya kerap muncul saat Lebaran tiba. Kini, beberapa jajanan itu sudah mulai jarang terlihat.
Meskipun sudah mulai jarang terlihat, sejatinya bahan baku jajanan tersebut tidak sepenuhnya hilang atau sulit ditemukan.
“Untuk bahan buat jajan tradisional itu seperti gula pasir, gula merah, tepung kanji, garam, vanili, daun pandan, pewarna makanan, santan, dan kapur sirih masih banyak tersedia,” ungkap salah satu pembuat kue rumahan, Riris Setyowati, asal Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi.
Bahan-bahan tersebut, kata dia, bisa ditemukan di pasar tradisional maupun toko penjual bahan baku kue dan makanan. Bahkan, ketersediaannya pun cukup banyak dan mudah didapatkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, kue atau jajan tradisional itu mulai turun jumlah pembuatnya.
“Peminatnya juga turun. Kebanyakan lebih suka jajanan yang lebih tren, seperti nastar, dan semacamnya,” imbuhnya.
Turunnya pembuat jajanan Lebaran tradisional ini bukan tanpa alasan. Keterbatasan waktu dan tenaga jadi alasan beberapa orang enggan membuatnya.
“Sekarang banyak perempuan kerja. Terkadang mendekati Lebaran tidak ada waktu dan memilih jalan praktis, beli kue jadi,” terangnya.
Untuk bahan baku jajanan tradisional seperti pala dan cermai, juga masih bisa ditemukan di Banyuwangi. Salah satu sentra pembuatnya ada di Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro.
“Pala masih banyak, cermai yang mulai susah dicari,” ungkap salah satu pembuat manisan, Siswati.
Cermai adalah buah dari pohon dengan nama yang sama. Tanaman dengan nama ilmiah Phyllanthus acidus ini sudah sangat jarang ditanam. Sehingga, buahnya pun kini ikut susah dicari.
“Harus mendatangkan dari daerah lain,” ujarnya. (gas/bay)
Editor : Salis Ali Muhyidin