Radarbanyuwangi.id – Ketupat tidak hanya disajikan sebagai menu utama hari pertama lebaran. Di Banyuwangi, ada perayaan khusus bagi penyajian ketupat saat lebaran. Namanya lebaran kupat.
Perayaan digelar pada hari ketujuh lebaran. Prosesinya sederhana, cukup dengan menyajikan hidangan ketupat dan opor ayam. Makanan itu dibagikan kepada tetangga maupun kerabat dan saudara.
Tradisi ini menjadi bentuk syukur dan pengharapan bagi masyarakat Suku Osing di Banyuwangi. Tanda syukur karena telah diberikan kesempatan untuk merayakan lebaran.
Pengharapan disisi lain, berharap masih bisa dipertemukan dengan Ramadan dan Idul Fitri tahun depan. Selain ketupat dan opor ayam sebagai sajian lebaran dan lebaran kupat, ada jajanan lain yang membuat kangen khususnya generasi 80an.
Di Banyuwangi, sajian tape dan ketan disajikan dan dimakan beberanegan dalam satu suapan. Inilah yang disebut masyarakat Suku Osing dengan Tape Kethot.
Tape dibuat dengan menggunakan bahan beras ketan, ragi tape, dan pasta pandan. Tape merupakan makanan yang dihasilkan dari hasil fermentasi.
Sedangkan kethot dibuat dengan menggunakan beras ketan, kelapa muda parut, santan kental, dan garam. Bentuknya mirip sagon tapi kethot tidak dipanggang melainkan dikukus.
Cara makannya pun unik. Kethot yang sudag masak dicocok kedalam tape ketan. Dijamin enjong pokokke kabeh. Jajanan memiliki keunggulan yakni daya tahan yang lama. Makanya selain disuguhkan saat hari pertama lebaran.
Tape kethot juga biasa disajikan saat perayaan lebaran kupat. Tak dinyana kunci rahasianya terletak pada pembungkus tape kethot itu sendiri. Jajanan ini dibungkus dengan menggunakan daun pisang.(*)
Editor : Niklaas Andries