Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kue Sato, Jajanan Jadul Khas Lebaran di Banyuwangi, Berbahan Cengkaruk dan Kacang Hijau

Niklaas Andries • Rabu, 20 Maret 2024 | 05:02 WIB
KHAS: Kue Sato menjadi kue tradisional Banyuwangi yang disuguhkan dalam segala suasana
KHAS: Kue Sato menjadi kue tradisional Banyuwangi yang disuguhkan dalam segala suasana

Radarbanyuwangi.id – Mengenakan baju baru sambil berburu angpao menjadi keseruan yang tidak tertandingi saat datangnya lebaran. Orang tua, kerabat, saudara maupun tetangga menjadi sasaran operasi demi menambah cuan saat perayaan Idul Fitri.

Hasilnya lumayan. Bisa buat nambah uang jajan atau membeli barang yang selama ini diidamkan. Sepatu baru, tas baru malah sepeda baru, wow, luar biasa. Penat berburu angpao lebaran, tidak ada salahnya mulai icip-icip kue lebaran.

Nah mau tau nggak kue lebaran Suku Osing Banyuwangi yang kini boleh jadi sudah jarang disuguhkan saat lebaran. Ya, kue sato namanya. Kue ini punya dua bahan dasar untuk membuatnya yakni kacang ijo dan cengkaruk atau nasi aking.

Tapi kalo boleh saran, pilih sato berbahan nasi aking, rasanya lebih gurih dan nikmat. Proses pembuatan sato pake kacang ijo maupun cengkaruk sama. Perbedannya, jika sato cengkaruk harus digoreng dengan minyak. Sedangkan yang berbahan kacang hijau cukup disangrai

Untuk proses pembuatannya, pertama kacang hijau yang telah dicuci hingga bersih dan dikeringkan kemudian disangrai menggunakan tungku atau kompor. Untuk menghilangkan kulit ari, kacang hijau diremas atau ditumbuk.

Sesudah bagian kulit ari kacang hijau bersih, baru digiling sampai halus dan dicampur gula pasir.  Untuk kacang hijau satu kilogram dicampur gula pasir enam ons sudah cukup. Setelah halus baru dicetak pada cetakan kayu dengan cara dipukul dan sato yang tercetak dijemur.

Sementara untuk sato berbahan dasar nasi aking, caranya satu kilogram cengkaruk ditumbuk untuk memisahkan gumpalan nasi aking.

Kemudian setelah terpisah berupa bulir seperti padi, digoreng dengan minyak sampai berubah warna sedikit keputih-putihan. Kalau tidak digoreng dengan menggunakan minyak warnanya kecokelatan.

Usai digoreng dan berubah warna kemudian diselep hingga halus menyerupai tepung dicampur gula merah yang telah disisir halus.  Tinggal diratakan sampai gula merah benar-benar merata baru dicetak ke dalam cetakan dan dijemur sampai benar-benar kering.

Awas setelah makan bersihkan mulut atau baju. Biar emak nggak ngomel ngomel usai makan kue ini. (*)

Editor : Niklaas Andries
#kayu #lebaran #idul fitri #gula pasir #kompor #angpao #nasi aking #Cetakan Daun Pisang #kue #kacang hijau