Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ahli Kesehatan Sebut Kerupuk Metode Panggang Jauh Lebih Sehat

Gareta Yoga Eka Wardani • Selasa, 24 Oktober 2023 | 17:01 WIB
SEPTA INDRA PUSPIKAWATI, Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat SIKIA Unair Banyuwangi.
SEPTA INDRA PUSPIKAWATI, Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat SIKIA Unair Banyuwangi.

Jawa Pos Radar Banyuwangi – Siapa yang tidak kenal dengan kerupuk. Bagi sebagian besar orang belum lengkap rasanya jika makan tanpa kerupuk. Kehadiran kerupuk dapat meningkatkan kenikmatan ketika makan.

Kerupuk terbuat dari bahan dasar tepung tapioka dengan tambahan perasa. Bahan tambahan tersebut berasal dari ikan, udang, kedelai, maupun sayuran.

Penambahan bahan tersebut sering kali dijadikan penamaan dari kerupuk. Seperti kerupuk udang yang terbuat dari tapioka dengan penambahan perasa udang.

Lalu ada kerupuk kelor, kerupuk yang terbuat dari tepung tapioka dengan penambahan daun kelor, dan lain sebagainya. Penambahan bahan tersebut juga bertujuan untuk menambahkan nilai gizi.

Kerupuk merupakan makanan ringan, tapi mampu menghasilkan kalori yang besar. Hal itu ditinjau dari bahan dasar pembuatannya.

Tepatnya, kandungan gizi utama seperti karbohidrat, dengan penambahan ikan atau sayur bisa meningkatkan kandungan protein dan juga vitamin.

Namun karena kerupuk dimasak dengan cara digoreng, hal ini membuat kerupuk menyerap minyak. Sehingga kandungan lemaknya tinggi, membuat kalori dalam kerupuk juga tinggi.

Sementara itu, dari hasil uji laboratorium menunjukkan terjadi peningkatan kadar lemak dari kerupuk yang digoreng awalnya sekitar 1,40 persen sampai 12,10 persen menjadi sekitar 14,83 persen sampai 25,33 persen berat basah.

Sebagai contoh, dalam 100 gram kerupuk amplang mentah mengandung lemak sebesar 0,4 gram. Sedangkan setelah digoreng kandungan lemak kerupuk amplang menjadi 28,1 gram (Tabel Komposisi Pangan Indonesia 2019).

Kalori yang dihasilkan dari 100 gram kerupuk amplang goreng cukup tinggi yaitu 504 kilokalori (kkal). Padahal, dalam 100 gram nasi hanya menghasilkan 180 kkal. Artinya, kita makan 100 gram kerupuk sama dengan makan 280 gram nasi.

Namun karena kerupuk biasa dijadikan camilan, sebagian besar orang tidak menyadari betapa tingginya kalori dalam kerupuk.

Ternyata selain minyak, kandungan natrium pada kerupuk juga cukup tinggi. Seperti dalam 100 gram kerupuk udang goreng mengandung natrium sebesar 449 miligram (mg).

Padahal, sesuai dengan anjuran dari Kementerian Kesehatan, konsumsi natrium dalam sehari hanya diperbolehkan sebesar 2.000 mg atau 5 gram garam atau setara dengan 1 sendok teh garam.

Sedangkan untuk lemak hanya 67 gram atau setara dengan 5 sendok makan minyak.

Lantas adakah kerupuk yang sehat? Kerupuk ada yang sehat jika diolah dengan metode pemanggangan atau pasir.

 Dengan menggunakan dua metode tersebut dapat mengganti penyerapan minyak sehingga kandungan lemaknya berkurang.

Misal dalam 100 gram kerupuk kemplang panggang kandungan lemaknya hanya 1,1 gram yang mampu menghasilkan kalori lebih rendah jika digoreng.

Peningkatan nilai gizi kerupuk juga bisa didapatkan dengan mensubtitusi bahan dasar tepung tapioka dengan tepung ikan.

Tentunya dengan metode pemasakan dapat melalui pemanggangan untuk menghilangkan minyak. Dengan subtitusi tersebut bisa diperoleh peningkatan kandungan protein.

Mengonsumsi kerupuk setiap hari tidak ideal. Karena kerupuk yang beredar saat ini kandungan lemak dan natrium tinggi.

Jika kita mengonsumsi satu kerupuk ukuran sedang, artinya kita sudah mengonsumsi lemak sebesar 2,81 gram (1 kerupuk ukuran sedang setara dengan 10 gram).

Jika makan kerupuk, pasti tidak mungkin hanya satu buah. Jika kita makan kerupuk, artinya kita sudah mengambil jatah konsumsi makanan yang digoreng sebagai sumber protein. Padahal, fungsi kerupuk tidak bisa menggantikan fungsi protein. (rei/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#kesehatan #makan #pasir #gizi #kerupuk