RadarBanyuwangi.id – Kuliner rujak khas Banyuwangi selalu menggoda selera. Salah satunya rujak kecut. Dengar namanya saja sudah bikin liur menetes.
Rujak kecut ini biasanya disantap sebelum makan siang oleh warga di kabupaten ujung timur Pulau Jawa.
Kalau tidak terbiasa makan rujak kecut Banyuwangi, hendaknya disantap setelah makan siang.
Rujak kecut merupakan rujak buah dengan kuah encer bercita rasa asam pedas.
Sedangkan buah-buahannya tergantung selera, mulai dari kedongdong, pepaya setengah matang, mangga, wortel, timun, ubi jalar, jambu merah, dan belimbing serta buah lainnya.
Penyajian rujak kecut, berbeda dengan rujak buah yang lain. Buahnya bisa dipotong-potong kecil atau diiris, ada pula yang diserut.
Sementara bumbu rujak kecut tidak jauh berbeda dengan bumbu rujak buah yang lain, meliputi petis, gula secukupnya, garam, cabai, dan cuka sesuai selera.
Agar bumbu rujak menjadi encer, ditambah dengan air matang.
Setelah buah-buahan dipotong-potong kecil atau diserut, kemudian dicampur dengan bumbu yang telah dihaluskan di dalam cobek dan ditambah dengan kuah air kelapa yang telah didiamkan selama tiga hari.
”Rasa kecutnya ini berasal dari werak atau air kelapa yang disimpan selam tiga hari. Rasa kecutnya khas dengan aroma kelapa yang segar,” ujar Witri, seorang pedagang rujak di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.
Rasa beragam buah-buahan yang renyah akan terasa semakin segar bercampur dengan kuah werak (cuka tradisional) encer yang memberi sensasi rasa kecut.
Baca Juga: Balap Sepeda Sumbang Emas Porprov Jatim, Sang Atlet Diguyur Bonus Jutaan dari ISSI Banyuwangi
”Kalau kuahnya asli ya pakai werak ini, kalau sekarang orang memakai air cuka yang dicampur air hangat,” jelas Witri.
Rujak kecut maupun rujak buah-buahan lainnya, bisa dijumpai ketika berkunjung ke sebuah warung rujak di Banyuwangi.
Di setiap warung rujak juga terdapat beragam nama rujak yang terpampang di papan menu.
”Lebih segar lagi kalau kuahnya diberi es batu,” pungkas Witri. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin