Toni, 37, salah satu pemancing sidat asal Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi ini mengatakan bahwa ikan ini hidup di rongga dinding batu padas di tepi sungai. ”Ikan sidat sungai lumayan langka, untuk memburunya juga membutuhkan waktu dan tenaga ekstra,” ujarnya.
Tak ayal, harga ikan yang memiliki ciri khas licin mirip belut ini juga mahal dibanding jenis ikan tawar lainnya. Selain karena sulit mendapatkannya di alam liar, kualitas rasa sidat memang berbeda dengan ikan tawar lainnya.
Harga satu kilogram ikan sidat kini mencapai Rp 90 ribu. Padahal, setahun lalu harganya masih berada di kisaran Rp 60 ribu per kilogram.
Ikan ini diyakini punya beragam manfaat. Selain bagus untuk mempercepat penyembuhan luka pascaoperasi, konsumsi ikan sidat diyakini mampu menambah stamina dan vitalitas pria. ”Rasanya enak, dan setelah makan lebih berstamina,” jelasnya.
Salah satu cara mengolah sidat yaitu dipepes dengan tambahan aneka rempah. Nanin, pemilik warung yang menyediakan pepes sidat menyebut, memasak ikan sidat tidaklah sulit. ”Bumbunya salam, serai, kemangi, bawang putih, bawang merah, cabai merah, muncang, merica, penyedap rasa, daun bawang, lalu bawang putih, bawang merah, kunyit, dan merica ditumbuk hingga halus,” ujar ibu asal Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Setelah dipotong dengan ukuran secukupnya, sidat dicuci bersih. Ikan beserta bumbu dibungkus daun pisang. Setelah itu dikukus selama 1,5 jam. Selepas 1,5 jam wangi kemangi tercium menusuk hidung, ikan sidat siap disantap.
Rasa ikan sidat gurih, kenyal, dan lembut. Rasa kulit yang khas dengan pelicin terasa pecah di mulut. ”Ikan dan bumbunya akan lebih meresap jika dimasak dengan menggunakan presto. Dengan cara ini tulang ikan akan lebih lunak dan lebih nyaman disantap,” tandas Nanin. (ddy/bay/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha