Sekadar diketahui, sejak tahun 2018 kampung kuliner yang berada di Desa Adat Kemiren tersebut telah menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat Banyuwangi untuk mencicipi berbagai jajanan yang tersedia.
Ketua Pasar Kuliner Desa Adat Kemiren Misji mengaku, pasar kuliner tersebut mengalami penurunan minat pengunjung. Akibatnya, jumlah penjual yang beroperasi pun turun. Hal itu terjadi terutama akibat banyaknya tempat kuliner serupa di Banyuwangi. ”Dulu kurang lebih ada 40 penjual, saat ini mungkin sudah tutup beberapa. Tapi tidak lebih dari 10 penjual,” ujarnya.
Misji mengatakan, alasan lain yang mengakibatkan penurunan minat warga untuk datang ke desa kuliner tersebut bermula ketika pandemi Covid-19. Selain itu sejak diterapkan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala nasional, kampung kuliner Desa Kemiren sempat ditutup untuk sementara waktu.
Akibatnya, imbuh Misji, banyak yang mengira kampung kuliner yang berada dalam gang kecil di kawasan perkampungan warga tersebut tidak lagi beroperasi. ”Sejak Covid-19 dua tahun memang ditiadakan kegiatan apa pun. Jadi, banyak juga yang mengira sudah tutup,” tuturnya.
Misji menambahkan, dia dan para anggota lain terus membangun inovasi untuk menarik kembali minat masyarakat untuk datang ke kampung kuliner Desa Adat Kemiren tersebut. Salah satunya yakni dengan tetap mengunggah posting-an di seluruh media sosial yang dimiliki.
Selain itu, pihaknya juga mulai menjual online makanan yang ada di kampung kuliner tersebut. ”Tujuan diadakannya pasar kuliner ini untuk menambah dan menaikkan perekonomian warga sekitar. Jadi, kita upayakan untuk tetap berjalan, dan eksis” pungkasnya. (cw5/sgt/c1) Editor : AF Ichsan Rasyid