Daun singkil merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak dikonsumsi oleh orang tua zaman dulu. Daun singkil sedikit bergetah dan mirip daun pepaya. Pohon ini kadang dikenal dengan nama lokal singkil. Ada juga yang menyebutnya waung atau pun berbuas. Rasa daun ini lembut dan gurih.
Daun ini biasanya diberi bumbu cabai, kencur, bawang merah, bawang putih, lengkuas, sereh, tempe semangit, atau pun potongan ikan gabus untuk menebarkan aroma wangi saat disantap dalam keadaan panas. ”Daun singkil ini juga enak dibotok atau disayur pedas,” ujar Paini, warga Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.
Tanaman ini banyak tumbuh dan menjadi pagar hidup di pekarangan rumah. Pohon singkil atau waung ini termasuk pohon tahun yang dapat menjulang hingga beberapa meter. Menanamnya juga mudah, cukup menggunakan stek batang.
Daun singkil bisa dimanfaatkan sebagai bumbu tambahan masakan, sayur yang dimasak dengan kuah santan atau kuah bening, dibuat oseng atau dimasak menjadi botok. Daun tersebut memiliki rasa yang lembut, gurih, dan sedikit pahit. Berdasarkan penelitian, daun singkil mengandung flavonoid, saponin, tanin, steroid, kalsium, serat, dan memiliki kandungan air yang tinggi.
Mengonsumsi daun ini juga dapat mengatasi berbagai penyakit termasuk diabetes dan penyakit jantung. Kandungan yang ada pada daun singkil bisa menjadi antikanker yang dapat menghambat penyebaran sel kanker dalam tubuh. Mengonsumsi daun ini secara rutin sangat baik bagi kesehatan. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono