Seorang pria muda terlihat duduk santai di depan rumahnya yang sederhana dengan tembok hanya dibalut lapisan semen. Senyumnya diumbar saat melihat wartawan Jawa Pos Radar Genteng mendatangi rumahnya.
Sambil mengajak masuk ke rumahnya, pria yang tak lain Imam Supriyadi, 38, warga Dusun Plosorejo, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring mengajak duduk di ruang tamu. Tak lama, menyuguhkan tiga bungkus olahan talas yang sudah menjadi keripik. Ketiganya memiliki rasa original, balado, dan jagung manis yang dikemas dalam 70 gram. “Ini usaha saya,” kata pemuda itu.
Supriyadi memang belum lama menekuni usaha membuat keripik dari talas pratama, tepatnya sejak Pebruari 2022. Berbeda dengan talas lokal pada umumnya, talas pratama memiliki ukuran yang relatif besar. “Berat satu umbinya itu bisa lebih dari tiga kilogram,” ujarnya.
Tiga keripik dengan rasa berbeda yang disuguhkan Supriyadi, hasil olahan talas pratama yang ditanam di kebunnya. Dari kebun itu, talas yang telah dipanen diolah menjadi keripik bersama seorang teman di daerah Kecamatan Glenmore.
Keripik olahan talas pratama dari kebunnya itu, sudah beberapa kali dipesan oleh beberapa temannya yang sedang bekerja di Taiwan. “Saya dulu pernah bekerja di Taiwan, teman-teman pingin dikirimi,” katanya.
Saat berada di di Taiwan itu, Supriyadi banyak kenalan. Salah satu temannya dari majalengka, Jawa Barat, memperkenalkannya tanaman talas pratama. “Saya juga diberi bibitnya, harganya seukuran jari kelingking Rp 5.000,” sebutnya.
Melihat belum ada petani talas pratama di Banyuwangi, Supriyadi berani membeli bibit itu. Selanjutnya, ditanam di lahan yang terletak tak jauh dari rumahnya. Meski belum memiliki ilmu budidaya talas, bujangan ini tak ambil pusing. Dia belajar membudidaya tanaman ini dari video yang dilihat di YouTube.
Dari keberaniannya memulai budi daya talas pratama, selama kurang lebih delapan bulan bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 4 juta. “Keripiknya saya jual ke teman-teman di Taiwan dan lainnya,” terangnya.
Bagi Supriyadi, budi daya talas pratama tidaklah sulit. Tak ada perlakuan khusus yang diberikan. Cukup ditanam, disiram, dan obat anti cacing parasit jika diperlukan. Untuk belalang yang kerap memakan bagian daun, itu tidak berpengaruh terhadap besar umbinya.
Saat ini Supriyadi memiliki empat orang mitra yang juga membudidayakan talas pratama. Mitra itu para tetangga yang ada di desanya. Untuk membantu para tetangganya itu, menjual bibit cukup Rp 3.000 per bibit. ‘Saya juga menampung hasil talas pratama untuk dibuat keripik,” pungkasnya. (cw3/abi) Editor : Agus Baihaqi