Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Lobster Rutin Kirim ke Singapura dan Hongkong

Rahman Bayu Saksono • Senin, 25 Juli 2022 | 18:07 WIB
Lobster masih jadi menu favorit di Singapura dan Hongkong. Rupanya, bahan baku menu tersebut banyak disuplai dari Bumi Blambangan.
Lobster masih jadi menu favorit di Singapura dan Hongkong. Rupanya, bahan baku menu tersebut banyak disuplai dari Bumi Blambangan.
RADAR BANYUWANGI – Sebagai kabupaten dengan garis pantai terpanjang di Jatim, Banyuwangi punya segudang potensi di bidang kelautan. Salah satunya lobster. Bahkan, lobster hasil budi daya di perairan kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini sudah rutin diekspor ke Singapura, Taiwan, Hongkong, dan sejumlah negara lain.

Ya, perairan laut kabupaten the Sunrise of Java, ini memang dikenal sebagai penghasil lobster kualitas ekspor. Salah satu lokasi budi daya lobster di Banyuwangi berada di pantai Grand Watu Dodol (GWD). Di lokasi ini terdapat Unit Percontohan Budidaya Lobster, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (SDM) Kelautan dan Perikanan, Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Bangsring Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Di tempat inilah mahasiswa, akademisi dari berbagai kampus di Indonesia, dan kelompok nelayan Pesona Bahari melakukan penelitian dan pengembangan budi daya lobster. Menariknya, metode budi daya yang digunakan adalah metode resirkulasi.

Dengan metode ini berbagai jenis benih lobster (benur) berukuran 0,4 hingga 0,6 gram yang sudah memiliki pigmen warna ditempatkan di bak-bak sirkulasi untuk dibudidayakan. Metode ini sesuai Permen KP Nomor 17 Tahun 2021, tentang segmentasi usaha budi daya lobster di Indonesia.

Benih lobster banyak didapat dari tangkapan nelayan di perairan Banyuwangi. Benih lobster tersebut berada di bak-bak resirkulasi selama 4 hingga 5 bulan untuk mencapai target penambahan ukuran menjadi 5-10 gram. Setelah dari bak resirkulasi tersebut, lobster-lobster lantas dipindah ke keramba-keramba lobster dan di-budidaya di dasar laut.

Pembesaran di keramba dasar laut sekitar lima bulan untuk mencapai ukuran 150 hingga 200 gram. Untuk lobster pasir minimal 150 gram, dan jenis lainnya 200 gram untuk bisa dipanen.

Satu keramba bisa menghasilkan 40 kilogram lobster.  Sedangkan di GWD terdapat enam keramba. Sekali panen bisa mencapai 2,5 hingga 3 kuintal. Untuk ukuran 150 hingga 200 gram harga antara Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per kilogram.

Kepala Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Bangsring, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Achmad Subijakto mengatakan, lobster dari Banyuwangi diakui memiliki kualitas ekspor. “Dibanding daerah penghasil lainnya, perlu diakui lobster hasil budi daya dari perairan Banyuwangi memiliki kualitas yang bagus. Lobsternya fresh, kualitasnya ekspor," kata pria yang karib disapa Toto tersebut.

Toto menjelaskan, nelayan Banyuwangi berhasil melakukan budi daya lobster di perairan utara. “Hasilnya cukup mengagetkan kami, ternyata kualitasnya mutu alam. Jadi meskipun budidaya, kualitasnya seperti tangkapan. Layak ekspor. Produksinya meningkat tajam. Bahkan sudah rutin ekspor ke Singapura, Taiwan, Hongkong, dan berbagai negara lainnya,” kata dia.

Sementara itu, Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, potensi lobster yang sangat besar ini akan lebih optimal bila dimaksimalkan. Apalagi dengan bantuan dari pemerintah pusat dengan menjadikan Banyuwangi sebagai pusat penelitian lobster, nelayan Banyuwangi juga akan diuntungkan. “Kami sangat mendukung, karena bagi kami ini adalah bagian dari pembangunan yang bervisi sustainability (berkelanjutan). Selaras dengan apa yang ingin dikembangkan Banyuwangi selama ini,” pungkasnya. (sgt/bay) Editor : Rahman Bayu Saksono
#lobster #ekspor #Perikanan #Kuliner #banyuwangi