Gembili sangat potensial dimanfaatkan sebagai makanan pokok pengganti beras. Pengolahan gembili dapat dengan beberapa cara yaitu direbus, dikukus, digoreng, dan dibakar. Gembili juga dapat dikembangkan menjadi tepung dan memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk seperti aneka kue basah dan kering serta roti.
Penelitian tahun 2008 menunjukkan bahwa suplementasi glukomanan meningkatkan konsentrasi bakteri probiotik seperti bifidobacteria dan laktobasilus. Glukomanan berguna untuk penyakit sembelit/konstipasi usus, yaitu dengan membantu pergerakan usus. Oleh karena itu, gembili tidak hanya sebagai sumber energi namun juga memberikan efek yang baik untuk kesehatan.
Tanaman gembili punya nama ilmiah Disocrea esculenta. Ukuran ubi gembili ini kira-kira sebesar kepalan tangan orang dewasa. Kulitnya tipis dan berwarna cokelat muda. Ubi gembili bisa dijadikan zat pewarna karena jenis umbinya ada yang berwarna kuning, krem, putih, hingga ungu. Rasa gembili ini terbilang unik, yakni gurih dan ada sedikit bau tanah yang membuat aromanya jadi khas.
”Selain bisa dijadikan bahan makanan, gembili mentah ini kalau dibersihkan dan diparut bisa digunakan sebagai obat luka memar atau bengkak,” ujar Holik, petani yang tinggal di Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.
Menurut peneliti serat pangan dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, serat pangan dalam ubi gembili ini cukup tinggi. Serat pangan bermanfaat melindungi tubuh dari penyakit akibat pola makan yang kurang baik, termasuk diabetes melitus, penyakit jantung, kanker usus, dan obesitas
Ubi gembili mengandung indeks glikemik yang rendah, karenanya baik dikonsumsi pasien diabetes. Tanaman gembili biasanya tumbuh di dataran rendah. Namun, tumbuhan ini juga bisa ditanam pada ketinggian 900 meter di atas permukaan laut.
Gembili bisa ditanam di tanah yang gembur dan berpasir, dengan suhu minimal 22,7 derajat Celsius dan suhu maksimal 35 derajat Celsius. Oleh karena itu, tumbuhan gembili bisa tumbuh dengan baik di daerah tropis dan daerah kering. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono