Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Hindari Racun Gadung, Proses Memasak Harus Benar

Rahman Bayu Saksono • Senin, 27 Juni 2022 | 19:07 WIB
PROSES CUCI: Warga membersihkan ubi gadung sebelum mengolahnya menjadi makanan. (Dedy Jumhardiyanto/Radar Banyuwangi)
PROSES CUCI: Warga membersihkan ubi gadung sebelum mengolahnya menjadi makanan. (Dedy Jumhardiyanto/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Tidak semua jenis umbi-umbian bisa dikonsumsi secara langsung dan aman bagi kesehatan. Salah satunya gadung. Ada jenis yang beracun, ada juga yang tidak beracun.

Kedua jenis gadung ini dapat dikonsumsi oleh manusia. Namun demikian, diperlukan pengolahan yang baik dan benar agar kandungan racunnya dapat hilang sehingga aman dikonsumsi. ”Racun pada gadung ini dapat menyebabkan rasa pusing dan juga muntah-muntah,” ujar Hotimah, seorang petani asal Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Saat ini, gadung sudah banyak diolah dalam bentuk keripik, sama seperti talas, singkong, kentang dan jenis umbi-umbian lainnya. Biasanya, olahan keripik dari ubi jenis gadung dan semacamnya memiliki rasa yang asin dan juga gurih, sehingga sangat nikmat untuk disantap.

Namun, gadung tidak dapat dikonsumsi secara langsung karena memiliki kandungan racun di antaranya ada dioscorin, diosgenin, dan dioscein. Apabila racun ini bereaksi, maka akan menghasilkan senyawa asam sianida. Menurut penelitian, asam sianida yang terkandung dalam gadung mentah sekitar 469,5 ppm, sementara menurut standar FAO kandungan sianida yang diperbolehkan ada dalam produk olahan umbi-umbian hanyalah sekitar 10 ppm.

Untuk menghilangkan sianida pada gadung, cara yang biasa dilakukan oleh masyarakat yakni dengan perendaman menggunakan air garam dan juga perebusan. Hal itu bisa mendetoksifikasi sianida pada gadung. Dalam perlakuannya gadung dicuci, kemudian dikupas dan dipasrah untuk memperkecil ukuran serta mempertemukan antara prekursor glikosida dengan enzimnya agar terbentuk sianida gadung.

Setelah itu dilakukan perendaman dengan air garam dengan berbagai konsentrasi. Setelahnya direbus selama 30 menit guna memaksimalkan detoksifikasi sianida.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman dengan larutan garam dan perebusan secara signifikan menurunkan kadar sianida pada gadung.

Gadung menjadi salah satu tanaman yang saat ini sering digunakan dalam pertanian. Sifat alami dari gadung yang memiliki racun, membuat tanaman umbi-umbian ini menjadi salah satu bahan baku dari pembuatan pestisida dan juga insektisida, terutama pada perkebunan.

Dengan menggunakan tanaman gadung sebagai bahan baku, maka hama yang ada di kebun terutama tikus, dapat dibasmi dengan mudah. Sehingga tanaman perkebunan akan aman dari gangguan hama.

Proses netralisasi sianida gadung juga bisa dilakukan dengan menggunakan abu sekam. Dengan pemanfaatan abu sekam misalnya, karbon pada abu sekam mampu menarik keluar sianida dari dalam gadung. Sianida yang keluar akan diserap oleh karbon tersebut yang mengakibatkan berkurangnya kandungan sianida dari gadung. ”Memang gampang-gampang sulit. Kalau tidak bisa mengolahnya, yang mengonsumsi gadung bisa keracunan,” tandas Hotimah. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono
#ubi jalar #ketela pohon #gadung #singkong #ubi #umbi-umbian