KUE bagiak merupakan salah satu kue kering yang kerap dijumpai di Bulan Ramadan dan Lebaran. Kue kering ini memiliki panjang dan bentuk menyerupai jari telunjuk orang dewasa.
Kue ini terbuat dari bahan-bahan di antaranya tepung kanji, susu, telur, garam, kelapa parut, dan bahan perasa. Bahan-bahan kue dicampur dan diaduk, dicetak, kemudian dipanggang di oven. ”Kalau bahan perasanya tergantung mau diberi perasa apa, karena rasa-rasanya beragam,” ungkap Suwarti, pembuat kue kering asal Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.
Kue kering ini memiliki bentuk yang keras, namun lembut dan meleleh ketika dimakan. Rasanya pun merupakan campuran dari rasa manis, asin, dan renyah. Kue bagiak dulu biasanya hanya tersedia saat Hari Raya Idul Fitri.
Awalnya, kue ini dibuat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah panen yang melimpah. Makna lain kue ini adalah bahagia, sebagai ungkapan kemenangan melawan hawa nafsu.
Kini, bagiak tidak hanya tersedia saat Lebaran. Kue kering ini sudah bisa dijadikan camilan setiap saat. ”Untuk camilan diminum dengan kopi atau teh lebih nikmat,” kata Suwarti.
Kue bagiak, jelas Suwarti, terus berinovasi dengan menyesuaikan rasa yang kekinian. Selain varian rasa original, kue kering ini juga terdiri dari berbagai varian rasa. Mulai dari rasa pisang, wijen, kacang, durian, vanila, pandan, nangka, moka, keju, kayu manis, susu, jahe, stroberi, cokelat, dan madu. ”Walaupun tersedia dalam berbagai rasa yang berbeda, rasa manis, asin, dan gurih tetap mendominasi,” jelas perempuan yang akrab disapa Titik itu.
Karena banyak pilihan varian rasa, kue bagiak ini pun menjadi oleh-oleh wajib untuk dibawa pulang sebagai buah tangan khas Banyuwangi. Hampir seluruh pusat oleh-oleh di Banyuwangi menyediakan kue kering yang pecah dan lembut di mulut ini. Harga kue kering ini dibanderol Rp 45 ribu per kilogram. ”Lumayan murah, satu kilogram bisa satu stoples ukuran besar,” tandasnya.
Editor : Ali Sodiqin