Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Adaptasi Kue Lokal dari Jejak Kolonial

Ali Sodiqin • Senin, 25 April 2022 | 19:00 WIB
adaptasi-kue-lokal-dari-jejak-kolonial
adaptasi-kue-lokal-dari-jejak-kolonial


NAMA kastengel memang terkesan kurang meng-Indonesia. Meski begitu, jajanan ini menjadi suguhan yang jamak dijumpai saat Idul Fitri. Tidak terkecuali di Banyuwangi.



Kue kastengel –atau kerap disebut kastengel keju– memang menjadi favorit banyak orang dari berbagai usia. Baik tua maupun muda. Teksturnya yang renyah dengan rasa kombinasi gurih dan asin membuat penikmatnya sanggup menghabiskan beberapa keping kue ini dalam sekali santap.



Lazimnya, kue kastengel berbentuk balok atau memanjang dengan bentuk melengkung di kedua ujungnya. Kue ini berwarna kuning tua hingga kecokelatan, dan bagian atasnya dilapisi parutan keju yang direkatkan atau diolesi dengan kuning telur.



Selain kuning telur yang digunakan sebagai olesan, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat kue kastengel meliputi mentega, keju, tepung terigu, dan susu bubuk. Cara membuatnya pun relatif mudah. Pertama-tama, kocok mentega dan kuning telur sampai tercampur rata. Bisa menggunakan mesin mikser atau bisa juga dikocok secara manual.



Selanjutnya, tuangkan keju parut dan aduk rata, lalu masukan tepung terigu dan susu bubuk. Aduk adonan tersebut hingga merata. Setelah itu, bentuk adonan sesuai selera lalu olesi dengan kuning telur dan beri taburan keju. Setelah itu, oven sampai matang dan siap disajikan.



Usut punya usut, kue kastengel merupakan adaptasi lokal dari jajanan asal Belanda, yakni kaastengels. Kata kaas dalam bahasa Indonesia berarti keju, sedangkan stengels artinya batang.



Erny, warga Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, mengatakan, kastengel merupakan salah satu jenis kue yang paling dia gemari. Dia mengaku membeli kue tersebut dengan harga Rp 95 ribu per kilogram (kg). ”Beda harga, beda kualitas. Maksudnya, mungkin saja ada yang menjual dengan harga lebih murah. Namun, karena penjual kue langganan saya selalu menggunakan bahan yang berkualitas, makanya harganya agak mahal,” pungkasnya. 


Editor : Ali Sodiqin