KELEMBEN menjadi salah satu kue kering oleh-oleh khas Banyuwangi. Namun, ternyata ada juga daerah lain yang membuat kue sejenis dengan nama lain.
Hingga kini, kelemben atau juga disebut bolu kuwuk, masih diproduksi oleh masyarakat Banyuwangi. Proses pembuatan kelemben dimulai dengan memecahkan telur lalu dikocok menggunakan mikser sampai mengembang. Selanjutnya, ditambahkan bahan lainnya yakni tepung terigu, gula putih, gula aren, garam, dan soda kue. Bahan tersebut kembali dikocok menggunakan mikser hingga lembut.
Setelah adonan jadi, kemudian dipanggang menggunakan cetakan kue berbahan besi. ”Kalau yang modern dimasukkan dalam oven dengan suhu tertentu,” ujar Bandiyah, pembuat kelemben asal Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.
Namun, hingga kini masih ada yang mengolah kelemben dengan cara tradisional. Kue dicetak menggunakan cetakan berbahan besi dan dipanggang di atas tungku. Setelah itu tungku ditutup menggunakan seng dan di atasnya diberi serabut kelapa yang telah dibakar.
Setelah itu, ditunggu sekitar 10 menit hingga adonan matang dan siap untuk disajikan. ”Kalau cara tradisional ini masih belum ada oven, kalau rasanya tidak ada bedanya,” jelas Bandiyah.
Bandiyah mengaku, kue buatannya biasanya dibeli orang berdasar pesanan. Jika hari-hari biasa memang ada yang pesan untuk hidangan stoples di ruang tamu. ”Lebih nikmat kalau disantap dengan kopi pahit,” katanya.
Bandiyah biasanya membuat sekitar 5 kilogram kue kelemben dalam satu minggu. Setiap kilogram berisi 45 buah kelemben yang dipatok dengan harga Rp 55 ribu. Sementara saat Ramadan, pesanan meningkat. Dalam sehari dia bisa membuat 15 kilogram kue kelemben. ”Kalau menjelang Lebaran pesanan tambah, kadang sampai nolak-nolak,” katanya.
Berkat menjual kelemben ini, Bandiyah mengaku bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Jika di luar bulan Ramadan dan Lebaran, dia menerima pesanan kelemben untuk acara hajatan atau oleh-oleh. ”Lumayan bisa untuk belanja kebutuhan menjelang Lebaran,” tandas ibu tiga anak ini.
Editor : Ali Sodiqin