SINGOJURUH - Beragam pasar tematik kian populer di Bumi Blambangan. Salah satu yang jadi pelopor adalah Pasar Wit-witan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.
Ragam kuliner tradisional tersaji. Di bawah pepohonan yang rindang. Di tepi jalan raya Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Memanjakan lidah, sedap di mata.
Seperti itulah sekilas gambaran Pasar Wit-witan Alasmalang. Salah satu pasar tematik yang ada di Banyuwangi. Pasar kuliner yang satu ini buka setiap Minggu pagi, yakni mulai pukul 06.00 sampai pukul 10.00.
Ada seabrek menu yang tersedia. Mulai makanan ringan, makanan berat, maupun ragam minuman tradisional. Di deretan makanan ringan, para penjual menawarkan berbagai jajanan tradisional, seperti jenang sapar, jenang sumsum, jenang procot, tiwul, kucur, lepet, tape ketan, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk makanan berat, di Pasar Wit-witan tersedia nasi pecel, sega cawuk, rawon, rujak soto, dan lain-lain.
Namun, selain itu, ada satu makanan yang bisa dibilang sebagai ”masterpiece”-nya Pasar Wit-witan, yakni geseng bangsong. Bahan baku utama masakan tradisional asal Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh ini yaitu itik alias entok jantan. Makanan ini memiliki ciri khas rasa asam pedas nan menggugah selera.
Aksen rasa asam itu berasal dari daun wadung muda. Selain untuk memberikan rasa asam pada masakan, daun wadung juga berfungsi menghilangkan bau amis dari daging itik tersebut. Selain daun wadung, bumbu-bumbu lain yang melengkapi masakan ini antara lain cabai rawit, cabai merah, kunyit, kemiri, terasi, gula pasir, garam, dan minyak goreng. ”Rasanya nikmat sekali. Rasa pedas, gurih, dan asam dari daun wadung membuat ketagihan,” ujar Yanto pengunjung asal Desa Kemiri, Kecamatan Singojuruh.
Sementara itu, di Pasar Wit-witan juga tersedia aneka minuman yang menyehatkan, seperti beras kencur, kunyit asam, dan temulawak. Ada pula cendol, dawet, hingga minuman ”sejuta umat”, yakni kopi.
Menariknya lagi, para pedagang di Pasar Wit-witan kompak mengenakan busana khas warga Osing. Pasar ini juga terbebas dari wadah dan sampah plastik. Para penjual makanan menggunakan daun pisang hingga tempurung kelapa untuk makan dan minum.
Editor : Ali Sodiqin